Baju Daerah Sulawesi Utara

Kamis, 17 November 2011


SULAWESI UTARA

Pakaian adat dari Sulawesi Utara sering disebut dengan pakaian Sangihe. Pakaian adat suku bangsa Sangihe Talaud sejak dulu menggunakan bahan serat kofo. Kofo atau fami manila adalah sejenis pohon pisang yang banyak tumbuh di daerah Sangihe talaud yang berikim tropis Seratnya diambil untuk menghasilkan benang kofo.

BUSANA WANITA

· Laku tepu yang bentuknya memanjang dari leher sampai di betis ,merupakan baju terusan terbuat kain kofo.

· Pada bagian leher terdapat lipatan berbentuk segitiga atau huruf V, sebesar ukuran kepala agar mudah memakainya. Kahiwu atau kain sarung. Kahiwu juga dibuat dari kain kofo,merupakan pelapis bagian dalam yang diikat dipinggang. Kahiwu mempunyai lipatan seperti kain(wiron)terletak agak kekiri disebut “leiwade

· Lipatan untuk rakyat biasa berjumlah 5 lipatan dan untuk bangsawan 7 atau 9 lipatan. Bandang ialah selembar kain kofo yang berukuran panjang 1,5 meter dengan lebar kira-kira 5 sentimeter.

· Pemakaiannya diletakkan di bahu kanan dan ujungnya diikat pada pinggang sebelah kiri. Bandang digunakan oleh wanita biasa,sedangkan wanita keturunan bangsawan menggunakan “kaduku atau animating” , adalah selembar kain kofo dengan ukuran yang sama seperti bandang,hanya perbedaannya tergantung dari cara mengikat

· Kaduka atau animating kegunaannya untuk memperindah Laku Tepu dan melambangkan derajat sosial masyarakat.

· Boto Pusige (konde) atau sanggul Pusige artinya ubun-ubun kepala. Boto Pusige artinya sanggul yang terletak pada ubun-ubun kepala wanita. Sanggul ini biasanya dibuat dari rambut wanita sendiri diatas kepala. Semakin tinggi Boto Pusige semakin indah. Untuk menjaga agar Boto Pusige tetap kuat digunakan Sasusu Boto (tusuk Konde) yang ditusukkan dari sebelah kanan sampai kiri

BUSANA PRIA

· Pakaian laki-laki juga disebut Laku Tepu, perbedaannya bagian lehernya berbentuk setengah lingkaran, berlengan panjang dan panjang pakain sampai ketumit. Laku tepu yang panjang berfungsi menutupi tubuh, melambangkan keagungan masyarakat Sangihe Talaud. Paporong atau pengikat kepala menggunakan bahan dari kain kofo dengan ukuran 1 kali 1 meter.

· Paporong dibentuk segitiga sama sisi, alasnya dilipat tiga kali dengan lebar 3 sampai 5 sentimeter. Paporong diikat pada bagian kepala menutupidahi.Paporong untuk laki-laki disebut paporong lingkaheng dan untuk keturunan bangsawan disebut paporong Kawawantuge.

· Popehe(pengikat pinggang), bahan dari kofo ukuran 1,5 sentimeter panjang dan lebar 5 cm. Popehe diikat pada pinggang pengantin pria pada sebelah kiri dan ujungnya terurai kebawah. Fungsinya memperindah laku tepu sekalgus mengatur Laku Tepu apabila kepanjangan dapat diatur dengan menarik keatas. Popehe juga memiliki makna membangkitkan semangat dalam melaksanakan tugas ataupun mengatasi berbagai rintangan.

0 komentar:

Posting Komentar