Batik Peplum

Senin, 29 Desember 2014


Batik Peplum by Annisa Rafika Sarinastiti

Floral Dress

FLORAL DRESS

by Annisa Rafika Sarinastiti




Model Baju Blouse dan Celana Hijab


BLOUSE DAN CELANA KATUN 

by Annisa Rafika Sarinastiti





Cardigan Lurik




Cardigan : Kain Tenun Lurik
Dress : Spandek
By AnnisaRafika

Proses-Proses Produksi Busana Industri

Minggu, 28 September 2014


PROSES PRODUKSI ( Production Procces )

  1. Pengertian Proses Produksi
      Proses produksi adalah urutan atau usaha yang dilakukan untuk menghasilkan produk (baru) yang telah direncanakan yang berasal dari pengolahan satu atau lebih bahan dasar atau bahan baku.




  1. Proses Produksi Busana Industri
1.      Pattern Maker
      Tugas utama dari bagian ini adalah membuat dan menggandakan pola, serta menyusun panel dalam marker untuk mengoptimalkan efisiensi penggunaan fabrics. Pada saat order baru datang, bagian ini menerima detail order dan mini marker dari buyer ( hanya buyer tertentu yang memberikan mini marker ). Mesin Gerber Garment Technology (GGT) akan melakukan editing mini marker ntuk mendapatkan efisiensi yang lebih baik dari marker tersebut. Dengan efisiensi yang optimal maka konsumsi material juga akan lebih optimal, selama masih dalam batas toleransi dan allowance. Biasanya efisiensi marker berkisar 75 –80%. Jika buyer tidak memberikan mini marker, mesin Gerber akan membuat marker sendiri dengan spesifikasi dari buyer. Mini marker biasanya dicetak dalam kertas A4 dan didistribusikan ke bagian cutting. Cutting akan menyusun cutting list, material consumption, spreading report dan material report. Setelah mini marker disetujui oleh pimpinan cutting dan menerima material consumption dari cutting, pola dicetak dengan marker yang berukuran aktual dengan mesin GG.

a)      Macam-macam Marker Layout
                                    Gambar 1. Nap One Way

               Spread : Face One Way, Nap One way (for high Quality)




                                           Gambar 2. Nap Either Way
  
                               Spread : Face One way, Nap Up and Down


                                        Gambar 3. Open, Nap Either Way

                                   Spread : Face to face, Nap Up and Down


2.      Sample Room
      Bagian ini mempunyai tangung jawab dalam membuat sample produk garmen sebelum masuk ke bagian produksi. Sample room bersifat independen karena bagian lain tidak terlibat dalam proses pembuatan sample ini.
      Setelah menerima original sample dari buyer bagian ini akan membuat sample dengan menggunakan fabrics yang karakteristiknya mirip dengan material sesungguhnya, sample ini disebut counter sample yang kelak akan didiskusikan dengan buyer. Setelah buyer setuju kemudian bagian ini membuat Pre Production Sample (PPS) dengan menggunakan fabrics sesuai spesifikasi dari buyer. PPS ini kemudian didstribusikan ke Marketing, representative buyer, maupun ke buying agent. Dari PPS ini sample room akan menentukan proses kritikal, flow proses, jenis mesin dan aksesories maupun attachment yang digunakan dengan koordinasi dengan bagian Industrial Engineering.

3.      Cutting

      Bagian ini merupakan bagian pertama dalam proses produksi yang mempunyai job utama memotong material meliputi : fabrics, lining atau interlining untuk dijadikan panel yang siap untuk dilakukan proses penjahitan. Perlakuan dan teknik pemotongan setiap fabrics bervariasi tergantung dari karakteristik fabrics. Maka dari itu pada bagian ini diperlukan skill operator yang bagus dan mempunyai keahlian yang diatas standar. Dalam melakukan pekerjaannnya bagian ini berkerjasama dengan planning , sample room dan pattern maker.

Proses penerimaan material berupa fabrics di bagian ini dimulai dengan proses transfer material dari gudang fabrics yang berada di bagian terpisah. Setelah menerima barang dari gudang tersebut, akan dilakukan beberapa tahapan proses diantaranya :
-          Spreading : fabric digelar secara manual atau dengan alat bantu berdasarkan karakteristik fabrics.
-          Cutting : fabrics dipotong sesuai dengan pola menjadi beberapa panel.
-          Repinning : menyusun kembali panel yang sudah dipotong ke dalam beberapa block, perlakuan ini dikhususkan fabrics dengan corak bergaris atau kotak .
-          Numbering : penomoran atau pemberian kode pada setiap panel, dengan tujuan untuk menghindari permasalahan di proses selanjutnya pada saat penggabungan panel, misalnya : jika dijumpai warna belang , corak tidak sesuai dll.
-          Bundling : melakukan proses pengelompokkan panel berdasarkan tipe fabrics, ukuran, warna dan jumlah dengan tujuan untuk mengontrol masing masing panel pada saat dijahit.
-          Ironing : menyetrika interlining sebelum proses fusing dan mengabungkan dengan fabrics. Tujuan proses ini adalah untuk merekatkan dan menempelkan interlining pada panel.
-          Fusing : memanaskan dan mengepres panel dan interlining, dilakukan setelah panel fabrics dan interlining di setrika dan diberi kode. Tujuannya adalah memperkuat daya rekat interlining terhadap panel.
-          Embroidery : secara umum bordir adalah merek atau label dari buyer yang direkatkan pada panel. Biasanya proses ini dilakukan oleh sub contractor.
-          Sloper : Mengepaskan / Refitting panel terhadap proses pola.
-          Loading ke sewing : mengirim potongan panel dan komponennya dalam bundle ke bagian sewing .

4.      Sewing
      Merupakan bagian produksi setelah cutting yang melakukan proses pembuatan garmen dengan menggabungkan beberapa panel menjadi sebuah produk berupa baju, shirt, skirt, dress, pants, vest, skort, jacket atau produk garmen lain yang sesuai dengan spesifikasi detail yang sudah ditetapkan dengan buyer. Sewing merupakan proses utama dari keseluruhan proses produksi garmen dan terdiri dari beberapa operasi yang memerlukan karyawan banyak.
-          Sewing bekerja sama dengan Planning memberikan Detail Order (DO) termasuk comment dari buyer.
-          Planning memberikan material requesition (MR) yang memuat materi yang dibutuhkan.
-          Planning memberikan seluruh informasi dari buyer ke bagian sewing berupa comment atau tambahan informasi mengenai sample. Dan sample yang telah disetujui oleh buyer tersebut menjadi referensi bagi sewing.
-          Panel yang telah dipotong dan di beri fusing di transfer ke bagian sewing dan dilakukan per style atau per lot untuk menghindari tercampurnya panel satu jenis dengan jenis lainnya.
-          PPS atau pilot adalah contoh garmen yang dibuat oleh line pilot atau supervisor atau berdasarkan sample yang telah disetujui buyer. Tujuan dibuatnya PPS adalah untuk menemukan kesulitan saat menjahit, menentukan time study, menentukan work study , keakuratan spesifikasi ukuran , dan sebagai petunjuk untuk membuat pre lay out mesin.
-          Pengecekkan PPS / Pilot dilakukan oleh kepala departemen sewing, sample room dan QC buyer. Masing masing pihak tersebut memberikan informasi tambahan, menentukan proses kritikal dan memberikan solusi atau metode kerja yang benar berkenaan dengan tingkat kesulitan produk yang akan dibuat.
-          Bagian Industrial Engineering akan terlibat dalam proses tersebut dengan memberikan gambaran mengenai hasil time study dan method study serta lay out mesin. Setelah semua proses tersebut dilalui, manajer sewing akan memberikan keputusan bahwa proses produksi massal segera dimulai.


5.      Finishing
      Merupakan bagian terakhir dari urutan proses produksi yang mempunyai tugas utama memastikan bahwa produk yang akan dikirim dalam keadaan yang baik dan sempurna dari segi mutu, penampilan dan kesesuaian dengan spesifikasi pengepakkan yang telah ditentukan oleh buyer. Tahapan proses yang pada umumya dilakukan oleh beberapa produsen garmen adalah:
-          Bahan baku dalam proses finishing berupa brand label, price tag ditransfer dari store dan dilakukan pencatatan.
-          Button hole process menggunakan mesin button hole dimana ukuran lobang disesuaikan dengan spesifikasi ukuran yang ditentukan buyer.
-          Attach button adalah proses memasang kancing dengan button stitch machine.
-          Attach shoulder pad, hanya style tertentu yang menggunakan shoulder pad, tergantung dari design. Proses ini menggunakan mesin bartack atau button stitch machine yang dimodifikasi.
-          Trimming, membuang semua sisa benang yang masih menempel pada garmen. Ada juga garmen yang dilakukan proses pembersihan kotoran berupa debu, sisa benang, sisa fabrics dengan menggunakan blower.
-          Metal Detector, memasukkan produk garmen kedalam alat untuk memindai adanya logam atau komponen yang tidak diinginkan yang membahayakan customer misalnya: patahan jarum jahit. Proses ini merupakan proses sampling dan bersifat optional .
-          Ironing, atau proses setrika dilakukan dengan menggunakan 2 metode yaitu :
a.       Melakukan kontak setrika langsung dengan garmen contohnya yang terbuat cotton.
b.      Steam iron, dengan menggunakan uap panas untuk menghindari kekerutan fabrics misalnya viscose.
o   Khusus garmen yang terbuat dari soft fabric yang mudah kerut, proses penyetrikaan dilakukan setelah ditransfer dari sewing sebelum pembuatan lubang kancing,
o   Memasang identitas produk garmen berupa :
1)      Price tag , label harga jual garmen di toko atau retail.
2)      Hang Tag , memuat merk atau logo produsen .
3)      Brand label atau label yang memuat lambang atau logo atau merek.
-          Garmen dilipat secara manual sesuai dengan detail dari buyer dan tidak semua produk garmen dilipat karena ada garmen yang digantung dengan memakai hanger.
-          Polybag, garmen dimasukkan ke dalam kantung plastik untuk menghindari debu dan pemasangan stiker di polybag.
-          Produk akhir / finish good siap dikirim ke packing untuk dipack dengan kardus.

      Peranan bagian Quality Control di area finishing biasanya dilakukan setelah proses trimming atau proses setelah pamasangan label sebelum masuk ke polybag.
      Fungsi QC lebih cenderung sebagai penjamin mutu barang sebelum dikirim ke packing atau sebagai Quality Assurance. Dalam setiap line di finishing ditempatkan seorang QC operator untuk menjamin kualitas garmen yang dihasilkan sesuai dengan persyaratan buyer.
6.      Quality Control
Beberapa job description dari bagian pengawasan kualitas ini adalah:
Melakukan koordinasi dengan perwakilan buyer ketika order datang dalam hal memastikan kualitas produk garmen.Menerima dan melakukan inspeksi bahan baku ( fabrics dan benang ). Melakukan pemeriksaan production pilot dan produk dari produksi massal. Biasanya QC akan memproduksi beberapa produk sebagai sample dan membandingkannya dengan PPS, jika production pilot memiliki hasil produksi yang bagus baru produksi massal dapat dimulai. Biasanya ada beberapa sub dari bagian ini:
QC in line QC atau Roving QC adalah personel QC yang berada di setiap line dan melakukan pengecekkan di setiap operasi sewing.
QC end line, adalah personel QC yang berada di ujung proses sewing line dan memeriksa satu bagian produk garmen secara keseluruhan. Jika dijumpai cacat produk atau defect akan dikembalikan ke sewing line dengan segera untuk dilakukan perbaikan.




Quality Assurance, sub bagian ini di beberapa perusahaan ada yang berdiri sendiri atau dibawah bagian QC. Biasanya QA ada di bagian Finishing dan berkordinasi dengan QC line.




C. Karakterisitik Busana Industri
      Busana industri adalah pakaian yang dibuat secara massal untuk dijual dalam keadaan siap pakai. Busana industri tidak diukur menurut pesanan perorangan, tetapi menurut ukuran yang sudah ditentukan atau menggunakan ukuran standar (S, M, L, XL), dijahit dalam partai besar, pengerjaan dan penyelesaian jahitan 100% menggunakan mesin industri, proses penjahitan atau sewing dilakukan sesuai alur yang sudah ditentukan. Di dalam industry garmen pengerjaan dalam sehari mampu mencapai 1000 pcs atau lebih.

Gamis Songket

Gamis Songket
Bahan : Songket & Satin
By : Annisa Rafika Sarinastiti

Trend 2014 Cardiomind

Jumat, 30 Mei 2014


By : Annisa Rafika Sarinastiti
Cardiomind - Matrix
Trend 2014
Bahan : Satin Bridal - Kulit Sintetis




Cara Menggambar Karakter Wajah dan Pose Tubuh

Minggu, 11 Mei 2014

KARAKTER WAJAH
1.     Wajah Asia
Ciri-ciri wajah Asia, yaitu:
1.     Relative membulat, jika dagunya meruncing tidak membentuk sudut
2.   Perona pipi ( blash on) menyebar rata, sehingga tidak menonjolkan tulang rahang/ tulang pipi
3.     Alis tipis melengkung datar mengarah keatas
4.     Mata sipit dengan sudut luar mengarah keatas tanpa lipatan kelopak mata
5.     Bola mata berwarna gelap
6.     Earliner atas lebih gelap dengan bulu mata pendek nyaris tidak kelihatan
7.     Kuping hidung datar dengan shading samar-samar
8.     Bibir tipis
9.     Kulit cenderung kuning atau ocher
10  Rambut lurus warna gelap

2.     Wajah Eropa
Ciri-ciri wajah Eropa, yaitu:
1.     Cenderung bersudut dengan rahang tajam
2.     Alis melengkung datar cenderung bersudut
3.     Jarak mata dan alis cenderung dekat
4.     Ukuran mata sedang dengan lipatan kelopak mata
5.     Bulu mata panjang, lentik dan rata
6.     Bola mata berwarna terang dengan earliner lebih tua disbanding bola mata
7.     kuping hidung tajam dengan shading tulang hidung jelas
8.     Bibir berukuran sedang cenderung bersudut
9.     Perona pipi memunculkan efek tulang pipi
10.  Warna kulit mengarah ke salmon
11.Rambut berwarna terang

3.     Wajah Afrika (Afro)
Ciri-ciri wajah Afrika (Afro), yaitu:
1.     Cenderung bulat dengan tulang-tulang wajah tampak menonjol ekstrim
2.     Alis melengkung tinggi
3.     Jarak mata dengan alis jauh
4.     Kelopak mata lipatannya jelas dan tebal
5.     Bola mata berwarna gelap
6.     Earliner wanra gelap dengan bulu mata panjang, lentik namun jarang
7.     Hidung dengan tulang cuping datar dengan shading tulang hidung samar-samar
8.     Perona pipi lebih menonjolkan tulang pipi
9.     Bibir tebal membulat
10.  Kulit gelap cenderung coklat tua atau hitam
11.    Rambut keriting
POSE TUBUH

Macam-macam Pose          :
1. POSE STANDAR
Pose dalam ilustrasi mode yang digunakan untuk busana kerja, busana siap pakai, maupun busana sehari – hari
2. POSE FEMININ
Pose dalam ilustrasi modeyang digunakan untuk busana pesta, kebayaatau busana daerah serta busana – busana dengan stell interli
3. POSE MASKULIN
Pose dalam ilustrasi mode yang digunakan untuk busana casual unik, busana dengan stell ekstrim seperti harazuku, pank, under grow, serta busana – busana dengan karakter maskulin

Kriteria Pembuatan      :
1.       Pose standar : Kebanyakan wajah tampak depan, tidak mendongak kaki segaris (tidak terbuka) gerak jari tidak dilentikan
2.       Pose feminine : Kebanyakan wajah agak menunduk, mata agak tertutup, jari dilentikan, kaki sedikit terbuka
3.       Pose maskulin : wajah mendongak keatas, tangan dipinggang, kaki ekstrim (dibuka), posisi kaki tumpuan (lebih tinggi atau panggul)
4.       Kaki tumpuan
Memiliki posisi yang mendekati sumbu imajiner (garis sumbu) atau minimal sejajar dan pada umumnya memiliki posisi panggul yang lebih tinggi dibandingkan dengan panggul yang bebas.
5.       Garis imajiner

Garis yang tidak perlu digambar yang melewati tengah leher atau pusat dengan posisi vertikal, sejajar vertikalnya tepi bidang gambar. 

Pengetahuan Tekstil

PENGETAHUAN TEKSTIL
Tekstil adalah bahan yang berasal dari serat yang diolah menjadi benang atau kain sebagai bahan untuk pembuatan busana dan berbagai produk kerajinan lainnya. Dari pengertian tekstil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa bahan/produk tekstil meliputi produk serat, benang, kain, pakaian dan berbagai jenis benda yang terbuat dari serat. Pada umumnya bahan tekstil dikelompokkan menurut jenisnya sebagai berikut:
  1. Berdasar jenis produk/ bentuknya: serat staple, serat filamen, benang, kain, produk jadi (pakaian/ produk kerajinan dll).
  2. Berdasar jenis bahannya: serat alam, serat sintetis, serat campuran.
  3. Berdasarkan jenis warna/motifnya: putih, berwarna, bermotif/bergambar.
  4. Berdasarkan jenis kontruksinya: tenun, rajut, renda, kempa. benang tunggal, benang gintir.
Pengetahuan tentang jenis dan sifat serat tekstil sangat diperlukan untuk mengenali, memilih, memproduksi, menggunakan dan merawat berbagai produk tekstil seperti serat, benang, kain, pakaian dan tekstil lenan rumah tangga lainnya. Karakteristik dan sifat bahan tekstil sangat ditentukan oleh karakteristik, sifat serat penyusunnya serta proses pengolahannya seperti dari serat dipintal menjadi benang, dari benang ditenun menjadi kain kemudian dilakukan proses penyempurnaan hingga menjadi produk jadi. Oleh karena itu untuk memahami lebih jauh tentang bahan tekstil diperlukan pengetahuan tentang karakteristik dan sifat berbagai jenis serat dan teknik pengolahannya menjadi bahan tekstil.
Karakteristik dan sifat serat menentukan proses pengolahannya baik dari sisi pemilihan peralatan, prosedur pengerjaan maupun jenis zat-zat kimia yang digunakan. Selama proses pengolahan tekstil sifat-sifat dasar serat tidak akan hilang.
Syarat-syarat jenis serat agar dapat diolah menjadi produk tekstil adalah sebagai berikut :
1. Perbandingan panjang dan lebar yang besar
2. Kekuatan yang cukup
3. Fleksibilitas tinggi
4. Kemampuan Mulur dan elastis
5. Cukup keriting agar memiliki daya kohesi antar serat
6. Memiliki daya serap terhadap air
7. Tahan terhadap sinar dan panas
8. Tidak rusak dalam pencucian
9. Tersedia dalam jumlah besar
10. Tahan terhadap zat kimia tertentu
Pemilihan kualitas bahan tekstil pada umumnya dilakukan dengan metode:
1.   Metode uji sensoris
Metode ini biasanya dilakukan oleh konsumen tekstil (masyarakat umum) ketika membeli bahan tekstil dari toko, pasar, pedagang atau lainnya. Dalam memilih bahan tekstil biasanya konsumen melakukan dengan cara dilihat, dipegang, diraba, diremas, diterawang, dibentang dan lainya yang hanya mengandalkan kemampuan panca indera manusia. Disamping itu biasanya konsumen juga melihat berdasar struktur harga (semakin mahal semakin baik), merk yang telah dikenal dan lainnya. Validitas metode uji sensoris ini sangat tergantung pada pengalaman si konsumen
2.   Metode uji teknis/ laboratories
Metode ini dilakukan oleh para produsen (industri), pedagang, akademisi dan pelajar untuk menentukan kualitas bahan tekstil. Metode uji teknis/laboratories ini memerlukan peralatan pengujian, standar pengujian, ruang pengujian di samping kemampuan panca indera. Untuk pengujian teknis ini dibedakan menjadi pengujian secara fisika dan pengujian secara kimia. Hasil pengujian teknis ini dapat dipertanggungjawabkan dan memiliki tingkat validitas yang tinggi serta memenuhi standar-standar kualitas (SII/SNI, ISO, JIS, ASTM, AATCC dll) yang berlaku pada tingkat lokal, nasional dan internasional






1. Jenis-jenis Serat
Pada dasarnya serat tekstil berasal dari tiga unsur utama, yaitu serat yang berasal dari alam(tumbuh-tumbuhan dan hewan), serat buatan(sintetis) dan galian (asbes, logam).
a. Serat alam yang berasal dari tumbuh-tumbuhan antara lain: kapas, lenan, rayon, nenas, pisang. Serat alam yang berasal dari hewan yakni: dari bulu beri-beri, adapun bahan yang berasal dari serat tersebut adalah bahan wol.sedangkan serat dari ulat sutra menghasilkan bahan tekstil sutra
b. Serat buatan (termoplastik) bahan tekstil yang berasal dari serat buatan ini adalah berupa Dacron, polyester, nylon.
c. Serat galian
Serat galian adalah yang berasal dari dalam tanah.contoh asbes dan logam, benang logam.bahan asbes banyak digunakan untuk sumbu kompor minyak tanah, untuk mengisi aneka bunga yang berasal dari bermacam-macam bahan tekstil seperti: stoking, nylon, tula dan bahan rajutan.
Serat logam lebih banyak digunakan untuk membuat bermacammacam jenis benang, seperti, benang emas, benang perak, tembaga, aluminium, selain itu ada pula benang logam yang dilapisi dengan plastik.
Apabila benang logam tersebut akan di tenun, sebaiknya di gabung dengan benang dari bahan lain. Hal ini disebabkan benang logam tersebut memiliki sifat kaku dan sukar dipelihara.
Benang logam ini banyak ditemukan pada bahan tekstil seperti:borkat, lame, tenunan songket yang ditemukan diseluruh daerah Indonesia antara lain: songket pandai sikek, songket silungkang, songket kubang, songket palembang, songket Kalimantan, songket jambi dll.


2. Sifat bahan tekstil
a. Katun
Sifat-sifat bahan katun adalah bersifat hidroskopis atau menyerap air, mudah kusut, kenyal, dalam keadaan basah kekutannya bertambah lebih kurang 25%, dapat disetrika dalam temperatur panas yang tinggi, katun lenan tersebut mengandung lilin, oleh sebab itu tidak perlu dikanji. Katun lenan ini tidak tahan chloor. Sementara rayon lebih licin dan mengkilap, tidak menghisap debu dan kotoran, karna kotoran itu melekat hanya pada permukaan bahan saja. Sedangkan sintetis sifatnya tidak jauh berbeda dengan katun lainnya
b. Wol
Bahan wol memiliki sifat sangat kenyal hingga tidak mudah kusut, bila wol dipanaskan ia akan menjadi lunak karena kenyalnya berkurang. Wol mengikat, panas, karena serabut wol keriting. Udara dalam pori-pori wol bertahan, bila dipakai dapat mengantarkan panas, wol tidak tahan akan nyengat.
c. Sutera
Bahan sutera memiliki sifat lembut, licin dan berkilap, kenyal dan kuat. Dalam keadaan basah sutera berkurang kekuatannya 15%. Bahan sutera tahan ngenyat, banyak menghisap air dan bila dipergunakan memberi rasa sejuk.
d. Dacron, Polyester dan Nylon
Bahan tekstil ini apabila dicuci cepat menjadi kering, tidak kusut jadi tidak perlu di setrika, kuat dan tahan lama dipergunakan, lebih tahan panas.
e. Brokat, lame dan songket

Bahan tekstil/ busana yang berasal dari brokat, lame dan songket ini mudah berubah warna, tidak mudah kusut, kurang menyerap air, tidak tahan temperatur setrika yang tinggi.