CERPEN : Secret Admirer

Kamis, 04 Maret 2010

Secret Admirer…


‘Kring…Kring…Kriinnggg………’ jam beker Putri berbunyi. Menandakan pukul 07.00 pagi. Tapi Putri masih tertidur pulas.
“Berisik banget sih!!” kata Putri kesal dalam keadaan setengah tidur sambil menutupi telinganya dengan bantal.
“Non.. bangun. Udah jam tujuh” kata Mbok Minah pembantu Putri.
“HAH?? JAM TUJUH??” Kata Putri kaget setengah mati sambil melihat jam bekernya.
“Mati gue terlambat!! Mbok gimana sih bukannya bangunin dari tadi” kata Putri langsung terburu-buru ke kamar mandi.
“Ye… Nonnya aja tuh molor terus kayak kebo” jawab Mbok Minah sambil merapikan kasur Putri.

Upacara bendera sudah di mulai. Vika sahabat Putri gugup menunggu Putri belum datang-datang. Putri memang kebiasaan terlambat terus. Putri yang cantik, baik, pinter, idola cowok-cowok sekolah punya sifat buruk juga. Udah Lola (loading lama), males, jorok, pikun, de-el-el…
Pintu gerbang sudah mau di tutup. Putri lari-lari ngos-ngosan.
“Pak… tunggu…” kata Putri lari-larian.
“Kamu lagi… kamu lagi… cewek terlambat terus!!” bentak Pak Joko satpam sekolah Putri. Yang nyeremin banget, udah gendut, kumisnya kayak Pak Raden. Ih… pingsan kali liat dia.
“Maaf Pak… tuh Bapak aja tau sendiri kalo saya sering terlambat. Jadi saya boleh masuk kan Pak?” kata Putri langsung buru-buru masuk. Tapi Pak Joko langsung menarik tangan Putri.
“Eits… mau kemana kamu? No…no… no…” kata Pak Joko menarik baju Putri.
“Lho Pak?? Biasanya juga di izinin??” kata Putri cemberut.
“Sekarang saya berubah pikiran!! Kalo kamu terlambat lagi saya gak mau ngizinin kamu masuk!!” kata Pak Joko langsung menutup pintu gerbang. Putri akhirnya pasrah juga dan duduk di bawah pohon kayak anak ilang.
“Sendirian aja nih??” kata cowok yang tiba-tiba mengahampiri Putri.
“Eh.. elo? Kok lo gak masuk?” tanya Putri.
“Gimana mau masuk? Pintunya aja di gembok?” jawab Vino. Vino teman Putri waktu SMP, dia itu cakep, baik, pinter, tajir, romantis lagi. Dulu Putri pernah kesambet, tapi Putri sok jaim gitu.
“Oh iya ya… ? hehe… gue lupa. Tumben terlambat?”
“Tadi gue nungguin lo dulu. Ups…” kata Vino sambil menutup mulutnya.
“Nungguin gue? kapan? Dimana? Ngapain?” tanya Putri bingung.
“Gak kok. Udah lah lupain aja” kata Vino. Putri masih menatap Vino dengan heran.
“Gimana kalo kita lewat pintu belakang aja?” Vino mengalih pembicaraan.
“Terserah deh… yang penting gue bisa masuk. Panas nih” jawab Putri malas. Akhirnya Putri menuruti kata Vino. Mereka pun bisa masuk.
***

Keesokkan harinya…
”Tumben gak terlambat?” sindir Pak Joko sambil membaca Koran melirik Putri yang baru saja datang.
“Gue gitu loh” jawab Putri jutek.
“Bilang aja mau ngerjain PR” Kata Pak Joko nyindir. Putri Cuma mencibir-cibir bibirnya.
“Eh… Vik da PR gak?” tanya Putri.
“Gak ada. Put liat deh di bawah kolong lo!” kata Vika. Putri meraba-raba kolong mejanya dan mengambil setangkai bunga mawar yang indah dan amplop berwarna pink.
“Dari siapa nih?” tanya Putri heran.
“Meneketeng-teng” jawab Vika mengangkat bahunya.
“Put, buka dong suratnya. Bacain ya?” kata Vika. menyikut lengan Putri. Putri membuka suratnya dan membacanya.


To : Putri

Kau bagaikan
Matahari
Yang selalu membuatku
Hangat di sisimu
Kau bagaikan
Pelangi
Yang mewarnai
Hari-hariku
Kau bagaikan
Bulan
Yang menerangi
Malam ku
Kau bagaikan
Bintang-bintang
Yang selalu bersinar
Menemaniku yang kesepian ini
Ku ingin
Kau menjadi
Segalanya untuk ku…


“Uh… so sweet…” kata Vika terkesima dengan puisi itu.
“Gila… romantis banget. Btw, siapa ya yang ngasih? Apa bener ini emang buat gue”
“Oneng…oneng… jelas-jelas To Putri… gimana sih loe?!” kata Vika kesal. Putri mulai kumat lagi.

Sepulang sekolah…
“Putri, sorry nih gue gak bisa pulang bareng. Coz, gue mau ke kantor nyokap gue dulu” kata Vika.
“Yaudah. Yah… gue jalan deh…” kata Putri melas.
“Maaf banget deh Put…”
“Yaudah ya gue duluan. Dadah…” kata Vika melaju dengan mobil Honda Jazznya.
“Putri mau bareng gak??” Vino menghampiri Putri dengan motornya.
“Bener neh lo mau nganterin gue pulang?” tanya Putri ragu.
“Iya. Cepet naik” kata Vino. ‘akhirnya gue ngirit ongkos. Lumayan’ batin Putri.
Di perjalanan…
“Put gue boleh nanya gak?”
“Nanya paan?”
“Ada yang marah gak nih gue nganterin lo pulang?”
“Marah??” Putri mulai lola lagi.
“Iya marah. Siapa kek gitu yang marah? Cowok lo mungkin?” Pancing Vino.
“Cowok gue? gue belum punya cowok kali?”
“Masa cewek cantik kayak lo belum punya cowok?”
“Yang ngantri sih banyak tapi belum ada yang srek. Hehe…gue pingin punya cowok yang baik, gak egois, perhatian, setia, cinta gue apa-adanya, romantis… “ kata Putri cerita.
“Lo yakin akan dapet cowok seperti itu?”
“Gak tau deh…” jawab Putri cengar-cengir.
“Di dunia ini manusia tidak ada yang sempurna.pasti mempunyai kekurangan” kata Vino tersenyum.
“Oh… apa angan-angan gue itu berlebihan?”
“Gak juga. Ciri-ciri itu pasti banyak yang nyari”
“Apa gue akan dapet cowok seperti itu?”
“Gue gak yakin. Tapi gue tau pasti cowok yang lo maksud ada di depan lo sendiri” kata Vino tertawa.
“Wuu… dasar! PD banget!”
“Gue akan buktiin kalo gue emang cowok yang lo cari” kata Vino serius.
“Oh ya??” Putri masih tidak percaya.
***
“Eh Put, liat kolong meja lo lagi deh!!” kata Vika.
“Paan sih?? Males ah… ganggu gue ngerjain PR aja!” jawab Putri yang lagi sibuk ngerjain PR Biologinya. Putri paling males ngerjain PR, apalagi IPA.
“Lo yakin gak mau liat di bawah kolong meja lo?” lirik Vika sambil menyikut lengan Putri. Akhirnya Putri mengambil juga. Ada sebuket bunga dan surat lagi. ‘Puisi lagi… puisi lagi’ batin Putri bingung.
Tatapan matamu
Seperti cahaya
Bintang-bintang
Yang bersinar di malam hari

Senyuman bibirmu
Sangat indah
Seperti bulan
Menerangi malam

Kata-kata indahmu
Seperti alunan
Ombak yang merdu
Di pantai cinta

Ku ingin
Kau menjadi bintang ku
Yang selalu menyinari
Gelap sunyinya malam

Dan selalu
Menghiasi hari-hari ku ini
Jangan pernah
Tinggalkan aku sendiri Putri…
Izinkan aku tuk berada di sampingmu selalu



“Dari siapa sih Put?” Tanya Vika penasaran.
“Gak tau. Gak ada nama pengirimnya” jawab Putri bingung.
“Fans lo kali? Wah…wah.. Putri punya secret admirer nih?” goda Vika sambil tertawa.
“Gak gentle. Beraninya cuma bisa ngirim bunga and bikin puisi tapi dengan cara diam-diam?” kata Putri kesal.
”Oh gitu ye? Gue tau siapa orangnya!” kata Vika memancing.
“Sumpeh loe? Siapa orangnya?” Tanya Putri penasaran.
“Kalo lo masih inget kejadian yang aneh kemaren-kemaren, lo pasti tau orangnya. Lo kenal dia kok. Tapi menurut gue lo gakkan inget. Lo kan pikun!” ledek Vika.
“Sial… kalo gue inget gimana?”
“Bagus itu. Berarti lo ada kemajuan” jawab Vika. Putri jadi sebel memanyunkan bibirnya sambil tertunduk.
“Nggak kok say. Gue cuma bercanda, jangan di masukkin ke hati dong. Udah ntar aja liat pulang sekolah di lapangan” kata Vika merangkul Putri.
“Di lapangan??” Tanya Putri bingung.
“Udah slow aja lagi. Pangeranmu akan datang. Hahaha….” Kata Vika tertawa.
“Ih… Vika… kasih tau gak?”!” kata Putri memukul-mukul Vika.
“Ih… sakit tau!! Gak bakal gue kasih tau!! Ntar lo juga tau sendiri!! INGET KATA-KATA GUE TADI. Simpen di disket otak lo!”
“Vika jahat gak mau ngasih tau…….” Jawab Putri kesal sambil ngoceh-ngoceh gak jelas. Vika sibuk dengerin MP3 gak peduliin Putri ngomong. Akhirnya Putri nyerah juga.
Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Nampaknya anak-anak pada berlarian ke lapangan, Vika juga ikut-ikutan.
“Vika… tungguin gue…” kata Putri teriak-teriak yang sibuk ngerapiin bukunya. Lapangan basket sudah di kelilingi anak-anak. Putri jalan sendirian di lorong sekolah. Semua anak-anak teriak-teriak memanggil Putri sambil bertepuk tangan. Empat orang cewek menarik-narik tangan Putri ke tengah lapangan.
“Woy apa-apaan sih nih??” kata Putri marah-marah. Sampai di tengah lapangan, Putri terkejut melihat Vino dan temen-temen bandnya.
“Hay Putri…” kata Vino menghampiri.
“Ada apa sih Vino?” Putri masih bingung. Tiba-tiba Vino menghampiri Putri dan memegang tangan Putri.
“Putri ini semua aku yang ngerencanain. Ini semua untuk kamu” kata Vino.
“Maksud ini semua apa?” tanya Putri bingung. Vino langsung berlutut di depan Putri sambil memegang tangan Putri. Putri jadi deg-degan.
“Putri… aku mau ngungkapin isi hatiku ini padamu. Putri kau bagaikan matahari yang slalu membuat ku hangat di sisimu, Putri kau bagaikan pelangi yang mewarnai hari-hariku, Putri kau bagaikan bulan yang menerangi malam ku, Putri kau bagaikan bintang-bintang yang slalu bersinar menemaniku yang kesepian ini. Putri ku ingin kau menjadi segalanya untukku… Putri maukah kau menerima hati ku ini untuk memasuki ruang di hatimu? Kamu tau bunga dan puisi-puisi yang ada di kolong meja kamu? Itu semua dari aku” kata Vino. Putri beku di tempat dengar kata-kata Vino tadi. Vino langsung berdiri.
“Putri aku ingin persembahkan lagu untukmu. Aku harap kamu suka lagu ini” kata Vino mengambil gitarnya. Teman-teman bandnya juga ikut membantu mengiringi lagu yang di nyanyikan Vino, yang berjudul “DI SINI UNTUKMU” lagu yang di buat group band UNGU. Semua anak-anak bertepuk tangan.

Seandainya kau tau betapa
Ku sangat inginkan dirimu
Seandainya kau tau apa yang
Ada di dalam isi hatiku
Akankah bisa ku nyatakan
Rasa cinta dalam hatiku
Dan akankah bisa
Ku nyatakan bahwa kaulah
Yang terindah untukku…
Masih disini… menantimu…
Berharap kau akan memikirkanku…
Masih disini… menunggumu…
Menanti jawaban atas cintaku…
Masih disini… menantimu…
Berharap cinta kita kan bersatu…
Masih disini… menuggumu…
Menanti dirimu kembali… untukku…

Semua bertepuk tangan dengan keras. Vino tersenyum manis. Senyumannya yang mampu membuat cewek-cewek pingsan. Vino mendekati Putri.
“Putri gimana? Kamu tau kan maksud lagu itu. Aku mau jawaban kamu sekarang” kata Vino memohon.
“Trima…trima… trima…” kata anak-anak teriak-teriak sambil bertepuk tangan. Vino menatap Putri dalam-dalam. Akhirnya Putri luluh juga. Semua yang di lakuin Vino tidak sia-sia membuat hati Putri terbuka. Putri menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
“Maksud kamu? Kamu mau terima aku?” tanya Vino ragu.
“Iya…” jawab Putri. Saking senangnya Vino memeluk Putri. Teman-teman bandnya berlompat-lompatan senang bersama anak-anak. Vika juga ikut senang, dari kejauahan Vika tersenyum dengan Putri, Putri membalasnya. Sekarang Putri tau pangerannya itu. Ternyata Vika kerja sama dengan Vino. Akhirnya mereka jadian..
selesai

Mading WD: IPA Vs IPS

kumpulan cerita pendek: IPA Vs IPS

Masjid SMAN 6 Tangerang

Masjid SMAN 6 Tangerang


Bulan Desember kemarin baru saja Masjid SMAN 6 Tangerang selesai di bangun lho.., kata Pak Hj.Badri selaku guru Agama Islam sekaligus ketua perancangan Masjid, Masjid ini bernama Al-Absaar yang artinya Pandangan Yang Luas. Wow… bagus juga ya namanya. Hehe..
Masjid ini di rancang oleh sekolah dan di gambar oleh pemborong pembangunan dari Pemerintahan. Masjid ini sudah mulai di gunakan tanggal 11 Februari 2010 untuk siswa-siswi melaksanakan ibadah solat Dzuhur dan Pelaksanaan kegiatan yang berhubungan dengan Agama Islam. Ukuran Masjid ini adalah 16x14 yang muat untuk 392 orang. Tapi Masjid ini belum serah terima dengan SMAN 6 Tangerang. Anggaran dari Pemerintah sudah selesai, di bantu juga dengan siswa-siswi SMAN 6 Tangerang yang setiap Senin di mintai sumbangan Masjid yang di laksanakan oleh Ekskul Rohis dan dari Masyarakat/Swasta juga, untuk membuat tiang atau pondasi Masjid.
Masjid ini juga belum lengakap. Ya… namanya juga Masjid masih banyak membutuhkan seperti tempat wudhu yang baru 5 keran (hoho), Pintu, Jendela, Pagar dan peralatan lainnya. Doakan saja semoga Masjid WD ini cepat lengkap perlengkapnya. Ayo dong sobat WD bantu untuk memperlengkap Masjid kita tercinta ini. Meski kalian menyumbang 100 perak saja bagaikan kalian meyalakan 1 lilin di Surga lho…  apalagi kalian menyumbang banyak kan?
Harapan Pak Hj. Badri “Saya harap siswa-siswi melaksanakan solat di Masjid yang telah di sediakan ini. Dan maunya sih solat berjamaah tapi berhubung waktu dan saran yang belum memadai”

IPA Vs IPS

IPA Vs IPS


JURUSAN IPA
Mempelajari ilmu pasti dan alam atau eksakta. Lengket dengan metode ilmiah yang mengutamakan percobaan-percobaan dan tes yang penuh logika. Jawaban atas pertanyaan soal adalah pasti tidak bisa di ganggu gugat. Cocok untuk yang berminat pada teknik, sains dan perkembangan teknologi, berhitung dan mengamati fenomena makhluk hidup dan alam sekitarnya.

Keunggulan :
1. Bisa lintas jurusan begitu memilih PTN, Karna jurusan ini selalu bisa survive dari segala jenis pelajaran. Ada anggapan kalo murid IPA selalu bisa beradaptasi dengan pelajaran IPS dengan mudah.
2. Melatih kemampuan logika dan penyelesaian masalh sehingga dalam dunia kerja lulusan IPA juga dianggap bisa berkerja di bidang IPS.
3. Perlu waktu dan suasana khusus untuk mempelajari satu mata pelajaran eksakta.
Kelemahan :
1. Sering terlihat belajar teru, seperti tak ada waktu santai. Agak kurang dalam pengetahuan pergaulan.
2. Pada akhirnya sering memilih jurusan IPS karna mengaku salah jurusan pada waktu kuliah, karena tidak kuat menjalani beberapa mata kuliah.
3. Belum tentu bisa menggabungkan metode menghafal dan menalarkan pelajaran.







JURUSAN IPS

Intinya sih jurusan ini mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan masyarakat. Mulai dari sosiologi, geografi, ekonomi akuntasi dan sejarah. Pelajaran-pelajaran ini terus berkembang mengikuti perkembangan zaman. Sangat pas untuk kita yang berminat pada bidang social-politik, kewartawanan, dan bisnis marketing.

Keunggulan :
1. Bukan santai, tapi pelajarannya emang hanya membutuhkan penalaran saja.
2. Saat ini, dunia kerja lebih membuka lapangan pekerjaan luas untuk jurusan social.
3. Karena masih ada waktu untuk bergaul, wawasan tentang dunia pergaulan bisa lebih luas.

Kelemahan :
1. Sangat berat bila bersaing di bidang IPA atau eksakta.
2. Cap miring soal jurusan pelarian dan gayanya yang santai
3. Nggak bisa lintas jurusan.

CERPEN: Berawal Dari Kejujuran

Minggu, 27 Desember 2009

Pagi yang cerah di sebuah pedesaan.
“Ibu jangan jualan dulu ya. Biar Dika yang jualan” kata Dika sambil merapikan sayuran kangkung dan Ubi di sepeda gerobaknya. Dika adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ayahnya telah meninggal sejak Dika masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Karna itu Dika terpaksa putus sekolah Ibunya tak mampu membiayai sekolahnya. Sekarang Dika yang harus membantu membiayai kehidupan keluarganya. Sedangkan Ibunya hanya berjualan sayur kangkung dan ubi.
“Ntar kamu kecapekan. Ibu gak kenapa-kenapa kok” jawab Ibunya yang masih terbaring lemas di kasur yang terbuat dari papan dan kardus.
“Ibu itu sakit. Aku gak mau Ibu tambah parah gara-gara kecapekan. Biar aku aja yang jualan”
“Makasih ya Nak. Hati-hati ya…”
“Gak usah bilang makasih Bu. Sebagai anak tertua aku harus membantu Ibu. Aku berangkat dulu ya Bu. Assalamualaikum” kata Dika mencium tangan Ibunya.
“Iya Nak. Wa’alaikumsalam”
“Dek jaga Ibu ya. Kalo Ibu minta apa-apa tolong bantuin” kata Dika ke Adiknya Suci.
“Iya Kak”


Sesampai di Pasar…
“Heh… Ibu kamu tuh belum bayar kontrakan tiga bulan, terus Ibu kamu tuh belum bayar utang!! Kapan mau bayar?” kata Ibu-ibu yang memakai perhiasan sangat banyak di leher,tangan, dan telinga.
“Maaf Bu. Ibu saya belum ada Uang. Apalagi Ibu saya sedang sakit, kami saja gak sanggup untuk membeli obat”
“Bodo amat. Mau sakit mau mati itu bukan urusan saya. Yang penting bayar uang kontrakan dan utang Ibu mu itu!!” bentak Ibu-ibu itu. Orang yang lalu lalang memperhatikan mereka.
“Saya usahain akan membayar semuanya. Tapi saya mohon pengertiannya Bu. Beri waktu lagi buat saya” kata Dika memohon.
“Kamu sama aja kayak Bapakmu itu. Bosen saya ngedengernya! Saya beri waktu seminggu lagi. Kalo sampai gak bayar juga saya usir kamu dari kontrakan saya”
“Iya Bu” kata Dika tertunduk lemas.

Dika berjalan dengan lemas sambil menuntun sepedanya. Hari ini dagangannya sepi. Dika masih memikirkan bagaimana cara membayar utang-utang itu semua. Adzan zuhur telah berkumandan, Dika mampir ke mushola untuk sholat.
Dika melanjutkan jalannya lagi di jalan Dika melihat benda terjatuh. Dika mengambil benda itu, ternyata benda itu adalah tabungan beserta kartu ATM. Dika langsung berpikir kemana-mana. Antara untuk di pakai buat bayar utang dan obat untuk Ibunya. Tapi Dika memilih untuk bertanya dahulu ke Ibunya.

Sesampai di rumah…
“Kak Ibu dari tadi batuk-batuk terus. Mukanya pucat” kata Adiknya gugup. Dika langsung menjatuhkan sepedanya di depan halaman.
“Ibu kenapa?” Tanya Dika ketakutan.
“Ibu Cuma batuk-batuk saja. Ibu gak kenapa-kenapa kok Nak.” Kata Ibunya tersenyum berusaha membuat anaknya tenang. Walaupun Ia merasa sangat sakit.
“Maafin aku Bu. Aku gak bisa bawa Ibu ke dokter. Aku anak yang gak berguna.” Kata Dika terisak tangis dan merasa bersalah sebagai anak yang tertua.
“Tadi Ibu kontrakan ke pasar. Dia bilang kita harus lunasin uang kontrakan tiga bulan dan hutang-hutang kita. Kita di kasih waktu hanya seminggu” tangisan Dika makin keras. Ibunya berusaha bangun dari tempat tidur dan memeluk Dika.
“Anak ku, jangan suka menyalahkan diri sendiri, kita harus tabah dan sabar menghadapi cobaan ini. Rajin-rajinlah kamu solat, berdoa dan mengaji, semoga Allah mendengar semuanya. Dan membantu kita yang dalam kesulitan ini.” Kata Ibunya menenangkan Anaknya. Ibunya selalu tabah dan sabar menghadapi cobaan yang Ia hadapi.
“Kenapa Allah gak adil dengan kita!! Kenapa orang-orang yang tidak taat dengannya harus mendapatkan kebahagiaan?” kata Dika sambil menangis meratapi kehidupannya yang begitu banyak cobaan.
“Anakku Allah Maha Adil dan Maha Mendengar. Kita sedang di uji kesabarannya dan ketabahan kita. Kita juga harus bersyukur masih di beri nikmat, jasmani dan rohani. Lihat pengemis-pengemis di jalan. Ada yang kehilangan salah satu tubuhnya. Seperti kaki, tangan. Kita harus bersyukur dengan ini semua. Jangan pernah bilang Allah itu tidak Adil. Karna di setiap cobaan Allah akan menunjukan jalannya” kata Ibunya. Dika menganggukan kepalanya.
“Gitu ya Bu? Bu aku menemukan buku tabungan beserta kartu ATM apa kita pakai saja buat bayar kontrakan dan hutang kita? Mungkin ini jalan yang di berikan Allah” kata Dika menunjukan buku tabungannya.
“Nak jangan pernah mengambil barang yang bukan milik kita. Itu gak baik”
“Tapi Bu, ini satu-satunya harapan kita.”
“Jangan Nak. Pokoknya kamu balikan ke pemiliknya.” Kata Ibu.
“Yaudah deh Bu. Besok aku balikan ke pemiliknya. Tapi gimana caranya kita bisa bayar semua hutang?” Dika masih bimbang.
“Anakku jangan pernah memakai barang yang bukan milik kita. Balikan ya Nak, urusan itu nanti kita pikirkan lagi” kata Ibu meyakinkan Dika.
“iya Bu”

Pagi-pagi sekali sehabis solat subuh, Dika menyiapkan sarapan pagi untuk Adik-adiknya dan Ibunya. Selesai itu, Dika langsung bergegas berangkat ke alamat yang dituju.
“Ibu Dika berangkat dulu ya.” Pamit Dika.
“Ya Nak. Hati-hati ya. Ini ada uang lima ribu buat jaga-jaga kalo ada apa-apa. Ni Ibu bawakan air buat di perjalanan”
“Gak usah Bu. Uangnya di simpan aja buat Ibu”
“Gak pa-pa kok Nak. Ambil aja. Ingat ya Dika, balikan barang itu ke pemiliknya”
“Iya Bu, Dika akan balikan barang ini ke pemiliknya. Dika berangkat ya, Assalamuallaikum”
“Wa’allaikumsalam hati-hati ya nak”

Di perjalanan Dika sangat semangat untuk mengembalikan barang itu ke pemiliknya di kota Jakarta nan luas. Dika bertanya-tanya tentang alamat itu. Ternyata sangat jauh dari tempat tinggal Dika. Keringat bercucuran sampai baju yang di pakai basah, matahari juga mulai bersinar.
Sesampai di rumah itu Dika terpesona dengan rumah yang sangat megah dan indah itu. Dika menekan bel rumah
“Maaf mencari siapa ya?” Tanya Ibu setengah baya itu.
“Apa benar ini rumah Bapak Andi?”
“Iya benar. Ada apa ya?”
“Boleh saya bertemu dengannya?”
“Tunggu sebentar ya”
“Ada apa ya Nak?” Tanya Bapak Andi.
“Pak saya ingin mengembalikan barang yang terjatuh dan ada nama Bapak di buku ini”
“Astagfirullah’alazim. Ini punya saya. Terima kasih ya Nak.” Kata Pak Andi senang.
“Iya sama-sama Pak” kata Dika tersenyum
“Boleh saya minta alamat kamu?” Tanya Pak Andi sambil menyodorkan kertas kecil dan bulpoin.
“Ini Pak alamat rumah saya. Saya pamit dulu ya Pak”
“Iya..iya. sekali lagi terima kasih ya Nak”
“Iya Pak. Assalamuallaikum”
“Wa’allaikumsalam”

Dua minggu kemudian Pak Andi datang ke rumah Dika. Tapi rumahnya sepi, ternyata Dika sudah di usir oleh Ibu kontrakan itu. Pak Andi sangat kecewa karna baru saja Ia ingin mengasih sebagian rezekinya dari Undian Bank. Saat di perjalanan tidak jauh dari pasar tempat Dika berjualan Pak Andi bertemu dengan Dika yang sedang berjualan sayur kangkung dan ubi. Pak Andi langsung meminggirkan mobilnya ke tepi jalan dan turun menghampiri Dika.
“Permisi, kamu yang dulu pernah mengembalikan buku tabungan dan ATM saya kan?” kata Pak Andi.
“Eh Pak Andi. Iya saya Pak. Ada apa ya Pak?” kata Dika langsung mencium tangan Pak Andi.
“Boleh saya minta waktu sebentar?”
“Boleh. Memang ada apa Pak?”
“Sekarang kamu tinggal dimana? Tadi Bapak ke rumah kamu tapi sepi, katanya kamu sudah pindah?” Tanya Pak Andi, Dika hanya tertunduk.”Kenapa Nak? Cerita sama Bapak?”
“Kami sudah di usir dari kontrakan karna kami tak sanggup membayar kontrakan tiga bulan dan kami tak sanggup membayar hutang Ibu. Ayah saya sudah meninggal waktu saya masih Sekolah Dasar. Jadi saya yang membantu Ibu berjualan sayur dan Ubi. Ibu saya sakit-sakitan terus. Sekarang…” Dika langsung meneteskan air matanya dan menarik nafas untuk melanjutkan ceritanya lagi. “Sekarang Ibu saya meninggal. Kami tak sanggup untuk membawa Ibu ke dokter. Saya kehilangan kedua orang tua saya lagi Pak” Dika menangis dengan keras karna Dika masih tidak rela kehilangan Ibunya yang selalu merawat Dika dan yang selalu memberi semangat dalam mengahadapi hidup yang berliku ini.
“Sekarang kamu tinggal sama siapa?” Tanya Pak Andi. Hatinya terpukul ketika mendengar cerita Dika, karna Ia terlambat untuk mengetahui ini semua.
“Saya tinggal di kolong jembatan Pak bersama tiga adik-adik saya” kata Dika mengelap air matanya.
“Nak, karna kamu sudah mengembalikan buku tabungan beserta ATM saya, saya ingin membalas kebaikan kamu itu, zaman sekarang jarang sekali ada orang yang mau mengemblikan barang yang bukan miliknya, tapi kamu mau mengembalikan itu dengan susah payah kamu jauh-jauh ke rumah saya. Dan kebetulan saya mendapatkan undian, saya akan serahkan sebagiannya untuk kamu dan adik-adik mu” kata Pak Andi tulus. Dika hanya diam membisu mendengar itu semua.
“Bapak serius?” Tanya Dika tak percaya.
“Iya lah Nak” jawab Pak Andi tersenyum.
“Terima kasih banyak Pak” kata Dika langsung memeluk Pak Andi seolah Anak dengan Bapak. Sampai Dika meneteskan air matanya.
“Sama-sama Nak” Pak Andi membalas pelukannya.”Ada lagi yang mau Bapak tanyakan ke Dika”
“Apa Pak?”
“Maukah kamu dan adik-adikmu saya angkat sebagai anak saya?” Tanya Pak Andi. Mata Dika berbinar-binar mendengar kata-kata Pak Andi itu.
“Bapak mau angkat saya dan adik-adik saya sebagai anak?” Tanya Dika tak percaya. Pak Andi menganggukan kepalanya dengan mantap sambil tersenyum. Dika langsung memeluk Pak Andi. Karna Dika akan mendapatkan kasih sayang lagi dari seorang ayah.
Perasaan Dika sangat senang begitu pun dengan adik-adiknya karna mereka di biayai untuk sekolah dan tinggal bersama Pak Andi. Jadi janganlah kamu beranggapan bahwa Allah tak adil. Setiap cobaan pasti Allah akan memberikan jalan keluar. Dan Allah telah memberikan jalan yang terbaik untuk orang-orang yang taat padanya. Di balik semua itu akan ada hikmahnya.




selesai

CERPEN: Bunga Hati

Bunga Hati…

“Puput… gue seneng banget…” kata Bunga memeluk Puput sesampai di kelas.
“Wiss… tenang-tenang. Lepasin dong. Berat tau. Duduk dulu dong.“ kata Puput.
“Hehe… maaf ya…” jawab Buga cengar-cengir melepas pelukkannya.
“Kayaknya lo seneng banget? Ada yang falling in love neh??” kata Puput menggoda.Bunga tersenyum.
“Gue seneng banget. Tadi malem dia ngajak gue jalan. Terus dia ngungkapin perasaanya.” Kata Bunga senyam-senyum.
“Terus??”
“Terus gue terima deh.” Kata Bunga senang.
“Lo yakin gak salah pilih…?” kata Puput ragu.
“Yakin. Gue sayang banget sama dia.”
“Yaudah… selamat ya…”
“Iya… makasih”
“Jangan lupa PJnya?” kata Puput menyikut lengan Bunga.
“Minta aja ke Rio?.”
“Wuu…”
“Oya Put, ntar gue gak bisa bareng lo. Gue mau di anterin pulang sama Rio. Maaf ya Put? Gak pa-pa kan? Tapi kalo lo gak ngizinin juga gak pa-pa”
“Udah gak pa-pa… lo pulang aja sama dia. Dia kan cowok lo. Jadi gak ada salahnya dong lo pulang sama dia. Gue juga gak berhak ngelarang-larang” jawab Puput tersenyum.
“Makasih banget ya Put… lo emang sahabat gue yang paling bisa ngertiin gue, and lo sahabat gue yang paling baik.” Bunga memeluk Puput.
“Iya… makasih atas rayuanya…” mereka berdua tertawa.

sepulang sekolah....
"Put gue pulang duluan ya?" kata Bunga.
"Iya. hati-hati ya. Rio hati-hati ya?" kata Puput.
"Iya tenang aja. gue duluan ya Put" jawab Ryo.
"Kalian berdua udah saling kenal?" tanya Bunga bingung.
"Mmm... ya gitu..." jawab Puput bingung. Bunga jadi curiga.
"Yaudah ya. dah..." kata Ryo mengalih pembicaraan. dan motor Rio pun melaju.

Di perjalanan…
“Kamu kenal Puput?? Kamu kok gak cerita ke aku??” Tanya BUnga masih penasaran.
“Maaf deh sayang… iya aku kenal dia waktu aku mau kenalan sama kamu” jawab Rio.
“Oh…” jawab Bunga singkat.
***

Seminggu kemudian…
“Hay Bunga… lo udah sembuh??” Tanya Puput melihat Bunga sahabatnya sudah masuk sekolah. Udah seminggu Bunga gak masuk sekolah.
“Udah…” jawab Bunga singkat. Mukanya masih sedikit pucat.
“Lo kok gak bersemangat banget?” Tanya Puput heran.
“Tumben lo gak jenguk gue? Biasanya kan kalo gue gak masuk lo langsung ke rumah gue?” Tanya Bunga.
“Mm… maaf deh Bunga. Gue lagi sibuk les” jawab Puput.
“Les?? Sejak kapan lo ikut les? Bukannya lo paling males ikut les?” Tanya Bunga curiga.
“Itu… gue… di paksa sama nyokap gue. Kan bentar lagi kita ujian” jawab Puput terbata-bata. Bunga menatap Puput dengan heran. Puput gak seperti biasanya.
“Gue heran… lo kok jadi berubah sih Put?” Tanya Bunga masih heran dengan sifat temannya itu.
“Berubah gimana?”
“Ya… berubah aja. Rio juga berubah. Gue sakit dia gak jenguk gue. Dia gak pernah sms gue, kalo gak gue duluan yang sms dia gak bakal sms. Selama gue gak masuk sekolah Rio pernah jalan sama cewek?” Tanya Bunga. Wajah Puput tiba-tiba berubah seperti orang tertangkap basah. Bunga menatap Puput.
“Kenapa Put? Ada yang aneh?” Tanya Bunga curiga.
“Nggak kok. Gue gak pernah liat dia jalan sama cewek lain” jawab Puput.
“Yakin??” Tanya Bunga masih curiga.
“Suer deh…” jawab Puput menunjukkan telunjuk dan jari tengahnya. Bunga tersenyum.
“Iya… deh gue percaya” jawab Bunga.

Sepulang sekolah…
“Bunga, gue duluan ya?” kata Puput terburu-buru.
“Kok lo keburu-buru banget?” Tanya Bunga sambil merapikan bukunya.
“Gue udah di jemput sama sopir gue. Dadah Bunga…” kata Puput pergi. Bunga bener-bener masih bingung melihat tingkah temannya itu. Bunga duduk di taman sekolah dekat parkiran motor menunggu Rio. Sudah hampir setengah jam Bunga nunggu Rio tidak datang-datang. Sampai lapangan sudah sepi.
“Eh, Lo temennya Rio kan? Rio mana?” Tanya Bunga ke teman kelasnya Rio.
“Bukannya dia udah pulang?” jawab orang itu
“Udah pulang? Sama siapa?” Tanya Bunga bingung.
“Gak tau deh sama siapa. Ngapain lo nyariin Rio?” Tanya temannya heran.
“Kok lo ngomong kayak gitu? Gue kan ceweknya Rio” jawab Bunga heran.
“Bukannya lo udah putus sama Rio?” Tanya temannya jadi bingung.
“Putus??? Kata siapa??” Bunga bingung.
“Kata Rio. Katanya lo ngeduain Rio.” jawab temannya.
“Dia ngomong kayak gitu?” jawab Bunga kaget.
“Iya.”
“Yaudah thank’s yaa…” jawab Bunga lemas. Akhirnya Bunga pulang sendiri.

Sesampai di rumah Bunga mencoba telepon rumah Rio.
“Hallo…” kata orang di sebrang sana.
“Hallo bisa bicara dengan Rio?” Tanya Bunga.
“Rionya baru aja pergi”
“Pergi? Pergi kemana Bi?” Tanya Bunga bingung.
“Ini dari siapa ya?” jawab Pembantu Rio.
“Ini Bunga Bi.”
“Bukannya Rio pergi sama non Bunga?”
“Pergi sama saya? Gak kok Bi. Tadi aja saya pulang sendiri. Rio udah pulang duluan” Tanya Bunga tambah bingung.
“Tadi saya lihat Rio sama cewek. Bukannya non Bunga?” pembantu Rio heran.
“Saya ada di rumah Bi… emang ceweknya ciri-cirinya kayak gimana?” Tanya Bunga penasaran.
“Rambutnya panjang bergelombang warnanya agak merah, kulitnya putih” kata Pembantu Rio. Bunga langsung terbayang Puput. karna mirip dengan Puput.’Gak, mungkin Puput? tapi bisa juga, Puput sekarang beda dari biasanya’ batin Bunga.
“Yaudah deh Bi… makasih ya??” kata Bunga menutup telepon.

Pikiran Bunga jadi ke Puput terus. Bunga coba telpon HPnya Puput. tapi gak ada yang angkat. Besoknya hari minggu. Bunga berencana pergi ke rumah Puput tanpa sepengatahuan Puput.
Kring… kring… ‘ Bunga menekan bel rumah Puput. pembantu Puput keluar.
“Eh… non Bunga. Nyari Non Puput?” kata Pembantu Puput akrab.pembantu Puput kenal Bunga sejak masih kecil sampai sekarang.
“Iya Bi. Puputnya ada?” Tanya Bunga.
“Baru aja pergi sama cowoknya”
“Sama cowoknya? Siapa Bi?” Tanya Bunga bingung.
“Duh siapa ya? Depannya R” kata Pembantu Puput.
“R?? siapa Bi? Ayo dong Bi ingetin?” Bunga penasaran.
“Aduh non lupa Bibi teh…” logat sundanya mulai keluar.
“Yaudah deh Bi. Bibi Bunga boleh minta tolong gak.?” Tanya Bunga ragu.
“Boleh.”
“Jangan bilang-bilang Puput ya Bi kalo aku kesini”
“Emang kenapa neng? Gak biasanya?”
“Udah pokoknya jangan bilang-bilang Puput ya Bi. Please…” kata Bunga memohon.
“Yaudah deh. Bibi gak akan bilang-bilang”
“Makasih banget ya Bi.. aku pulang dulu ya Bibi” kata Bunga pamit.
“Iya. Hati-hati non”
“Iya Bi.”
Akhirnya Bunga pulang.
“Duh… kepala gue pusing banget. Pasti ada yang di sembunyiin sama Puput dan Rio. Laper lagi gue. Makan aja deh gue” kata Bunga mengeluh, sambil menuju ke Mall Pondok Indah.

***


Di sekolah…
“Put gue mau ngomong sama lo” kata Bunga saat di kantin.
“Ngomong apa??” Tanya Puput.
“Lo kemaren pulang sama siapa??” Tanya Bunga.
“Kan sama sopir gue…” jawab Puput.
“Bohong!!!” bentak Bunga. Puput jadi sedikit kaget.
“Beneran Bunga. Gue pulang sama sopir gue!!” kata Puput melas.
“Sumpah???” tantang Bunga.
“Jangan main sumpah-sumpahan lah!! Gak baik tau!!” kata Puput sambil memakan baksonya.
“Kalo lo memang jujur lo berani bersumpah dong!! karna lo gak mau di tuduh!! Tapi kenapa lo gak mau main sumpah-sumpahan?? Takut kena Karma??” bentak Bunga.
“Kok lo jadi gitu sih??” Tanya Puput takut.
“Gitu gimana? Gue Cuma mau tau aja kok kejujuran lo!!!”
“Iya deh sumpah” jawab Puput takut.
“Kurang keras!! Dan kurang lengkap!!” kata Bunga menyilakan tangannya.
“Iya gue sumpah kalo gue pulang sama sopir gue!!” teriak Puput.
“Hmm… bagus. Kalo lo bohong sama gue liat aja nanti. karna kebenaran akan selalu menang!!” sindir Bunga. Muka Puput udah merah. Bunga sengaja menyindir Puput, supaya Puput menyadari dan mau mengaku apa yang di sembunyikan dari Bunga.
Sepulang Sekolah…
Dengan cepat Bunga menghampiri ke kelas Rio. Ternyata berhasil. Rio masih ada di dalam kelas seperti terburu-buru. Baru aja mau keluar kelas, tiba-tiba Bunga menjegatnya.
“Mau pulang ya??” kata Bunga menyilakan tangannya.
“Eh… Bunga…” kata Rio tebata-bata sambil garuk-garuk kepala. Bunga teersenyum licik.
“Kamu kemana aja? Kok gak penah sms? Kok gak jenguk aku waktu sakit? Kok gak pernah ngajak jalan lagi?” sindir Bunga.
“Mmm… maaf Bunga ku sayang. Aku sibuk banget. Jadi gak sempet deh…” kata Rio.
“Oh gitu. Kemaren kamu jalan sama siapa??” kata Bunga.
“Aku gak jalan sama siapa-siapa…”
“Masa sih??” sindir Bunga.
“Bunga pulang bareng ya… ngomongnya jangan disini” kata Rio mengalihkan pembicaraan.
“Gak!!!”
“Kita kan udah lama gak pulang bareng lagi sayang”
“Pokoknya sekarang juga jawab!! Baru aku mau pulang bareng”
“Iya deh… kemaren aku tuh pergi sama temen les aku, itu juga aku cuma nganterin dia doang ke toko buku. Terus gak ngapain-ngapain lagi.”
“Bener??” Tanya Bunga.
“Iya sayang…” jawab Rio tersenyum sambil mengelus rambut Bunga.
“Awas ya kalo sampe bohong!!”
“Iya sayang ku… ayo pulang…”
“Tunggu dulu…” kata Bunga berhenti.
“Ada apa lagi?”
“Kata temen kamu, Kamu ngomong kalo kita udah putus? Terus kamu juga ngomong kalo aku ngeduain kamu? Bener?” Tanya Bunga.
“Kamu kata siapa?” Tanya Rio mukanya udah merah.
“Pokoknya kata temen kamu!! Bener kan kamu ngomong kayak gitu?”
“Gak lah sayang. Aku kan masih sayang kamu, aku cinta sama kamu, masa aku ngomong kayak gitu sih?”
“Bisa aja kan kamu ngomong kayak gitu. Biar kamu gak ketauan selingkuh!!” sindir Bunga.
“Sayang lebih percaya sama siapa? Temen aku apa aku? Kamu curigaan banget sih!!” bentak Rio kesal. Bunga jadi sedikit kaget.
“Gimana aku gak curiga? Kalo semuanya tuh ngebuktiin kalo kamu itu selingkuh!” bentak Bunga.
“Pikiran kamu aja kali!! Curigaan terus!!” bentak Rio.
“Aku berhak dong curiga sama kamu, karna aku masih perhatian sama kamu, karna aku sayang kamu, karna aku gak mau kehilangan kamu. Kalo kamu apa? Sekarang kamu itu berubah!! Aku tau, pasti semua ini ada hubungannya kan sama Puput? kamu selingkuh kan sama Puput?” kesabaran Bunga udah habis, Bunga asal ceplos aja! Tangan Rio melayang ke pipi Bunga, Bunga memegangi pipinya yang merah. Beberapa orang lalu lalang melihat. Mata Bunga mulai berkaca-kaca.
“Tampar aja lagi Rio!!! Sampe kamu puas!! Aku terima kok!!” kata Bunga menangis. Rio hanya terdiam.
“Kenapa sih Rio kamu gak bisa ngertiin perasaan aku sekarang? Kalo kamu udah bosen ngomong aja Rio, kalo aku punya salah aku minta maaf. Gak kayak gini Rio! Sakit Rio kalo hubungan kita kayak gini terus. Lebih baik kamu jujur sebelum aku terlanjur sakit banget!!!” kata Bunga terisak tangis sambil memegangi dadanya.
“Maaf Bunga. Aku …” kata Rio menyesal. Bunga langsung lari. Tapi Rio langsung menarik tangan Bunga.
“Maaf Bunga. Aku tadi lagi emosi. Aku sayang sama kamu Bunga, aku cinta kamu… jangan tinggalin aku Bunga” kata Rio memohon. Tapi Bunga gak peduliin Rio.
“Bunga… please.. aku gak bisa hidup tanpa mu Bunga…” kata Rio.
“Denger ya Rio. Aku gak mau di sakitin lagi. Aku juga gak mau kalo kamu kayak mantan-mantan aku yang suka nyakitin perasaan aku. Aku tuh sayang banget sama kamu Rio. Tapi kenapa kamu gak bisa ngertiin perasaan aku, sifat kamu sekarang buat aku sakit. Aku mau kamu bisa ngertiin perasaan aku, aku mau kamu gak nyakitin aku.” Kata Bunga terisak tangis. Rio mengelap air mata Bunga.
“Bunga ku… aku janji gak akan nyakitin kamu, aku janji aku pasti bisa ngertiin perasaan kamu, karna ku sayang kamu, karna aku cinta kamu. Jangan pernah tinggalin aku ya Bunga??” kata Rio memeluk Bunga sambil mengelus rambut Bunga. Bunga tersenyum sambil mengiyakan.
***

Udah selama sebulan hubungan Bunga dan Rio jalan. Tapi ada beberapa masalah yang Bunga gak tau sama sekali sampai sekarang. Bunga hanya pasrah menjalani ini semua. Bunga tetap pura-pura gak tau tentang rahasia Rio dan Puput. Selama liburan sekolah Bunga pergi ke luar kota.
Rio… apa kabar? Kok kmu gak pernah sms lg? knapa? Aku kangen sma qm…
Bunga mengirim pesan lewat sms, dan email. Tak ada balasan dari Rio. Sebelum pulang Bunga sempat mampir ke toko souvenir untuk membeli oleh-oleh Rio dan Puput sahabatnya. Di jalan Bunga melihat orang berpasangan dengan mesra yang mirip dengan Rio dan Puput. Bunga jadi penasaran. Dari rambut, badan semuanya menyerupai Rio dan Puput. Bunga mengejar orang itu. Dan coba memanggil.
“Rio…” panggil Bunga teriak. Ternyata benar cowok itu menoleh yang sambil merangkul cewek. Rio masih menatap Bunga dengan heran. Bunga mendekat. Rio jadi ‘ngeh kalo itu Bunga ceweknya.
“Bunga??” kata Rio kaget. Cewek yang di rangkul Rio menoleh.
“Puput??” kata Bunga kaget. Puput juga ikut kaget. Ternyata cewek yang di rangkul Rio adalah Puput sahabatnya Bunga sendiri. Sekarang Bunga tau kenapa Rio gak pernah kirim pesan, dan telpon lagi. Mata Bunga mulai berkaca-kaca. Sahabatnya sendiri mengkhianatinya.
“Lo tega ya sama gue Put? Gue kira lo sahabat gue yang paling baik!!” kata Bunga mulai meneteskan air matanya. Beberapa orang lalu lalang menatap mereka semua dengan heran.
“Maaf, Bunga.” kata Puput bingung mau ngomong apa.
“Semudah itu lo minta maaf sama gue? Lo tuh nusuk gue dari belakang!! Lo kan tau Rio itu siapa gue? Kenapa lo tega banget sama sahabat lo sendiri?! Gue bener-bener gak nyangka Put lo kayak gitu. Gue kira lo sahabat terbaik gue. Tapi ternyata nggak” kata Bunga. Puput dan Rio bingung harus ngomong apa lagi.
“Lo juga Rio!! Pengkhianat!! Okey. Mendingan kita putus Rio. Kamu sama Puput aja. Mungkin Puput memang terbaik buat lo, mungkin Puput yang lebih pantes di hati lo. Gue gak ada apa-apanya di mata lo” kata Bunga terisak tangis meninggalkan Puput dan Rio. Rio langsung mengejar Bunga.
“Bunga please… dengerin aku dulu…” kata Rio menarik tangan Bunga, Bunga menyambarnya.
“Kenapa sih loe gak bisa ngertiin gue??” kata Bunga terisak tangis sambil berjalan.
“Bunga dengerin aku dulu… aku jelasin semuanya…” kata Rio menarik tangan Bunga.
“Gak ada yang perlu di jelasin. Semua udah jelas.” Bunga memberontak.
“Please… Bunga… dengerin aku…” Rio menarik tangan Bunga lagi. Akhirnya Bunga berhenti.
“APA??” Bentak Bunga.
“Aku ngaku aku salah. Tapi aku masih sayang sama kamu. Aku sama dia gak ada rasa apapun Bunga…” kata Rio memohon.
“Gak ada rasa?? Jelas-jelas lo pacaran sama Puput sahabat gue” kata Bunga kesal.
“Iya aku tau. Tapi sekarang aku nyesel Bunga. Ternyata hati aku hanya untuk kamu. Aku gak rela kamu pergi dari aku. Aku masih sayang kamu, aku masih cinta sama kamu Bunga. Please kasih satu kesempatan lagi buat aku” kata Rio menggenggam tangan Bunga memohon.
“Apa lo bilang? Kesempatan? Lo itu punya otak gak? Lo udah ngeduain gue Sama sahabat gue sendiri. Lo gak mikir gimana perasaan gue kalo tau orang yang di sayang jadian sama sahabatnya sendiri? Lo pikir gue ini apa? Seenaknya lo mainin perasaan gue?” Bunga menangis lagi. Hatinya sakit sekali. Bunga teringat dengan mantan-mantannya yang juga sering nyakitin perasaannya.
“Janji-janji lo apa slama ini? Janji lo Cuma manis di bibir!! Lo itu sama aja kayak cowok yang lainnya. Brengsek…” kata Bunga menangis, saking kesalnya Bunga menampar Rio. Rio memegangi pipinya yang merah. Sekilas Rio ingat kejadian dulu, saat Rio menampar Bunga. Bunga dan Rio jadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sekitar.
“Udahlah… urus tuh cewek lo!! Jangan pernah ganggu gue lagi!!!” kata Bunga bentak sambil menunjuk Puput yang ada di belakang Rio.
“Bunga… please kasih kesempatan buat aku. Aku akan buktikan kalo aku bener-bener sayang sama kamu, aku bener-bener cinta sama kamu. Sekarang hati ku sadar kalo aku lebih cinta sama kamu, karna aku gak mau kehilangan kamu. Aku janji Bunga aku gak kan ngekhianati kamu. Aku janji Bunga. Kamu Bunga hati ku, yang bisa mewarnai hari-hari ku, Cuma kamu yang bisa mengharumkan cinta kita.” Kata Rio memohon sambil menggenggam tangan Bunga dan menatap Bunga dalam-dalam. Bunga menatap arah lain.
“Please Bunga…” kata Rio memohon. Orang-orang makin ramai melihat mereka berdua, seolah-olah mereka menonton pertunjukkan drama.
“Gak bisa Rio. Gue mundur…” kata Bunga tertunduk. Rio makin erat menggenggam tangan Bunga dan menatap mata Bunga dalam-dalam, meyakinkan Bunga kalo hatinya hanya untuk Bunga. Tiba-tiba sopir Bunga datang dengan mobilnya. Semua orang yang menonton jadi menjauh.
“Gue pergi Rio. Semoga lo bahagia sama Puput. Puput jaga Rio baik-baik ya…” kata Bunga terisak tangis menghampiri Puput.
“Tapi Bunga… Rio lebih sayang sama lo…” kata Puput menarik tangan Bunga.
“Gak Put. Gue tetep mundur. Gue pergi ya Put.” Kata Bunga lalu menghampiri ke mobil. Sebelum masuk Bunga menatap Rio, Rio pun menghampiri Bunga.
“Bunga aku tau mungkin kamu udah gak percaya lagi sama aku. Aku Cuma bisa bilang maafin aku, jujur dari hati ku yang paling dalam kalo aku Cuma sayang sama kamu, aku cinta sama kamu. I Love You Bunga…” kata Rio matanya mulai berkaca-kaca. Bunga langsung masuk ke dalam mobil. Rio memperhatikan mobil Bunga hingga hilang dari pandangannya. Orang-orang mulai berbubaran.
“Maaf Rio kita sampai di sini aja. Aku bener-bener gak enak sama Bunga. Bunga sahabat gue yang paling baik. Gue gak mau kehilangan Bunga. Bunga itu bisa ngertiin gue, tapi gue ini apa? Gue gak bisa ngertiin Bunga? Gue malah jadian sama lo, sedangkan lo itu udah punya Bunga sahabat gue. Gue emang sahabat yang jahat” kata Puput menyesal. Rio hanya pasrah. Puput pun pergi meninggalkan Rio sendirian. Rio duduk di dekat taman sambil menangis. Sekarang Rio kehilangan Bunga orang yang bener-bener dia sayang.
***


Hari ini mulai masuk sekolah lagi. Bunga mencoba lupakan semua kejadian tiga hari yang lalu. Di kelas Puput dan Bunga masih saling membisu. Lama-kelamaan Puput gak tahan. Biasanya mereka saling curhat, bercanda, tapi sekarang gak ada canda dan tawa seorang sahabat. Selama dua hari Bunga dan Puput masih diam-diaman. Akhirnya Puput memberanikan diri untuk meminta maaf.
“Bunga… gue mau minta maaf sama lo, maafin gue ya Bunga? Gue bener-bener nyesel, gue bener-bener jahat sama sahabat sendiri, maafin gue Bunga. Gue rela kok lo mau balas dendam ke gue, gue rela. Karna gue ini bener-bener keterlaluan. Terserah lo mau ngapain gue, yang penting gue masih bisa jadi sahabat lo lagi. Please… Bunga…” Puput memohon sampai meneteskan air matanya. Puput benar-benar menyesal sekali. Bunga menatap Puput.
“Dari kemaren-kemaren gue udah maafin lo kok Put…” jawab Bunga tersenyum.
“Gak mungkin semudah itu lo maafin gue. Gue mau lo maafin gue dengan tulus… karna kesalahan gue ini udah nyakitin perasaan lo. Gue ini sahabat yang gak berguna, gue ini sahabat pengkhianat, gue ini sahabat yang gak punya perasaan,gue ini sahabat yang jahat. Maafin gue Bunga…” kata Puput memohon sambil menangis.
“Bener Puput. gue udah maafin lo kok, tulus dari hati gue yang paling jero…” kata Bunga tersenyum, menahan tawa.
“Lo gak bercanda kan Bunga?” Tanya Puput ragu.
“Ya gak lah Put. Lagian juga ngapain sih ngungkit-ngungkit masalah kemaren? Gak mungkin gue ngejauhin lo hanya karna seorang cowok. Gue gak mau kehilangan seorang sahabat hanya karna seorang cowok. Sahabat itu susah di cari. Kemaren itu gue lagi emosi. Coz, gue bener-bener gak nyangka lo kayak gitu.” Kata Bunga.
“Lo baik banget Bunga. Lo sahabat gue yang paling baik yang pernah gue miliki. Tenang aja Bunga gue udah putusin Rio kok” kata Puput tersenyum.
“Kenapa lo putusin Rio? Lo sayang kan sama Rio?”
“Gue gak mau Bunga. Gue gak mau mikirin diri gue sendiri seneng, tapi sahabat gue terluka. Lebih baik gue tinggalin dia. karna gue gak mau kehilangan lo. Sekali lagi maafin gue ya Bunga?” Tanya Puput lagi.
“Iya Puput… gue udah maafin lo. Harus berapa kali sih gue bilang?”
“Kita masih sahabatan kan?” Tanya Puput ragu.
“Iya lah Puput… tapi janji diantara kita berdua gak saling mengkhianati.??” Tanya Bunga menunjukkan kelingkingnya. Puput juga menunjukkan jari kelingkingnya.
“Iya Bunga. Gue janji. Gue gak akan khianatin temen gue sendiri. Cukup untuk pertama kalinya dan untuk terakhir kalinya kejadian yang lalu” jawab Puput tersenyum. Mereka tertawa bersama.
Akhirnya mereka sahabatan lagi. Tak ada canda dan tawa tanpa seorang sahabat. Jadilah sahabat yang baik dan bisa mengerti perasaan sahabatnya.

SELESAI

CERPEN: putih hitam

Diary
Dulu selalu bersama. Suka dan duka kita jalani bersama, hingga kita berjanji akan terus bersama sampai akhir hayat. Cincin kita ini sebagai tanda bahwa kamu milikku dan aku milikmu. Tapi dunia seperti di balik ketika datangnya sesorang dalam kehidupan kamu. Kau lupakan semua janji-janji mu itu. Kau hitamkan semuanya.
“Hay kenapa kamu diam terus?” Tanya Aby sahabat Nadia.
“Gak kenapa-kenapa kok. Cuma lagi pusing aja” jawab Nadia sambil tersenyum.
“Mau makan siang gak? Nanti kita kan ada meeting. Ntar kamu laper lho”
“Gak. Aku minum susu aja” singkat Nadia.
“Yaudah aku makan siang dulu ya” kata Aby meninggalkan Nadia, Nadia hanya mengangguk.
Nadia kembali menulis di buku diarynya. Sambil termenung di bawah pohon yang rindang.
***

“Kamu kenapa sih Nad?” Tanya Aby bingung melihat sahabatnya hanya diam saja saat di mobil.
“Aku gak kenapa-kenapa By. Udah gak usah di pikirin”
“Kamu masih mikirin Evan ya?” Tanya Aby hati-hati. Nadia hanya terdiam menatap jalanan.”Nad percuma juga kamu mikirin orang yang belum tentu dia mikirin gimana perasaan kamu. Itu cuma buang-buang waktu aja”
“Kamu gak tau gimana perasaan aku. Kamu memang mudah bicara seperti itu. Tapi aku??” bentak Nadia, air matanya mulai mengalir di pipi tembemnya itu. Aby lebih baik mengalah, karna tak tega melihat sahabatnya menangis lagi. Aby ingin sekali membahagiakan Nadia, Aby telah lama memendam rasa tuk Nadia.
Sesampai di rumah, Nadia kembali menulis-nulis di buku diarynya. Memang sakit di tinggal dengan orang yang paling di sayang. Apalagi sudah tiga tahun bersama. Dengan cepat dia pergi dengan wanita lain. Tanpa memikirkan perasaan kita. Perasaan tak rela masih terasa di hati Nadia. Nadia langsung pergi ke dapur mengambil rantang berisi lauk dan sayur, Nadia langsung mengambil Jaket dan payung karena di luar sana lagi hujan. Nadia menuju rumah Evan, jarak rumah Evan dengan Nadia dekat. Tiap pulang kerja Nadia slalu mengantarkan nasi ke Evan dengan diam-diam. Lampu rumah Evan masih gelap, berarti Evan belum pulang. Nadia meninggalkan rantangnya di depan pintu rumah Evan.
***

“Selamat pagi Nadia cantik”. Sapa Aby sesampai di depan rumah Nadia. Nadia hanya tersenyum dan seketika terlintas kenangan dengan Evan. Ketika masih bersama.
“Kenapa Nad? Kok jadi diem? Aku salah ya?” Tanya Aby bingung.
“Gak kok. Ayo berangkat” kata Nadia langsung masuk ke mobil Aby.
“Nad nanti kan kita pulang cepet, mau gak kita jalan-jalan ke dufan?” Tanya Aby. Nadia langsung mengangguk mantap tersenyum senang.
“Ok.. nanti kita kesana” kata Aby senang.

Sesampai di Dufan…
“Kamu mau naik apa dulu?”
“Hmm… aku mau naik arum jeram dulu deh” kata Nadia berlari langsung menarik tangan Aby. Nadia kelihatan senang sekali, sudah lama Nadia tidak menikmati Dufan. Setelah menikmati beberapa mainan Nadia langsung duduk terdiam.
“Aduh aku pusing Nadia. Emangnya kamu gak capek?” kata Aby duduk di samping Nadia. “Nadia…” kata Aby mengibas-ngibaskan tangannya ke depan muka Nadia. Nadia langsung tersadar.
“Aby beli es cream dong… rasa coklat kacang ya” pinta Nadia.
“Oke… tunggu ya. Jangan kemana-mana lho. Awas!!” kata Aby. Nadia hanya tersenyum.
“Evan” sapa Nadia. Evan langsung menoleh. Dan yang di rangkul Evan pun menoleh. Evan langsung berhenti menatap Nadia. Perempuan di sebelahnya menarik tangan Evan tuk menjauh. Tapi Evan masih beridiri membeku. Nadia langsung mendekat.
“Evan… apa kabar?” Tanya Nadia menatap mata Evan dalam-dalam.
“Aku baik-baik aja Nad”
“Bahagia dalam sakitnya sesorang yang pernah bersamamu?” kata Nadia menusuk hati Evan. Evan tak berani berkata apa-apa.
“Oh jadi kamu yang namanya Nadia? Heh… denger ya aku calon istri Evan sebentar lagi aku akan menikah dengan Evan. Jangan lupa datang ya?” kata perempuan itu memanas-manasi Nadia.
“Dasar gak tau diri. Bisanya ngerebut cowok orang. Gak punya harga diri apa?” kata Nadia membentak. Tapi Perempuan itu menarik tangan Evan untuk pergi. Air mata Nadia langsung mengalir. Aby tiba-tiba datang, nadia langsung memeluk Aby.
“Nadia… jangan nangis lagi. Percuma juga kamu nangis tapi gak ada hasil apa-apa kan? Jangan buang-buang air mata kamu hanya untuk orang yang udah nyakitin perasaan kamu” kata Aby mengelus rambut Nadia. “Udah ya jangan nagis lagi. Nih es cream rasa coklat kacang” kata Aby tersenyum menenangkan Nadia. Nadia langsung mengambil esnya.
“Senyum dulu dong…” ledek Aby. Nadia langsung tersenyum.
“Pulang yuk… udah sore” pinta Nadia.
“Yuk…” Aby langsung merangkul Nadia.”Tapi nanti kita makan dulu yah?”
“Aku mau makan bakso ya?”
“Jangan. Kamu kan belum makan nasi dari tadi siang” kata Aby. Nadia hanya memanyunkan bibirnya. Aby yang melihat itu hanya tertawa.
Nadia melahap baksonya dengan lahap sekali. Aby senyum-senyum melihat itu.’Seandainya kamu tau kalo aku sayang kamu’ batin Aby.
“Aby. Kok cuma ngeliatin aja? Makan dong…enak lho” kata Nadia.
“Iya…iyah”
Saat di perjalanan pulang.
“Aby… kenapa ya Evan berubah gitu?” Tanya Nadia.
“Mana ku tau” jawab Aby.
“Aku yakin dia masih sayang sama aku. Aku lihat sendiri dari tatapan matanya By. Aku yakin ini pasti ada apa-apa. Apa mungkin dia malu karana aku penyakitan?” kata Nadia sedih.
“Kalo dia sayang kamu, dia pasti nerima kamu apa adanya”
“Padahal di akhir-akhir kehidupan ku, aku ingin menghabiskan waktu dengan dia. Tapi kenapa dia tega ninggalin aku karna dia? Aku sayang banget sama dia” kata Nadia. Nadia terkena penyakit Kanker otak.
“Nadia.. masih banyak yang sayang sama kamu. Aku, teman-teman kamu dan orang tua kamu. Aku mau kok jagain kamu. Aku mau bersama saat kamu butuh aku” kata Aby.
“Aku tau By. Tapi… aku juga mau dia ada di samping ku”
“Ganti aku Nad. Aku akan setia menemani kamu” kata Aby tiba-tiba meberhentikan mobilnya dan menatap Nadia dalam-dalam. Nadia hanya menatap Aby dengan bingung. “Eh maaf Nad. Hehe” kata Aby cengar-cengir tersadar.
“Iya gak pa-pa. Lebih baik jujur kok. Aby aku turun sini aja ya” kata Nadia.
“Tapi kayaknya mau hujan. Aku antar aja ya sampai rumah”
“Gak usah. Deket ini kok. Makasih ya atas waktunya” kata Nadia tersenyum sambil membuka pintu mobil, tapi Aby menarik tangan Nadia.
“Apa By?” kata Nadia kaget. Aby hanya memandang Nadia. Nadia jadi salah tingkah di liatin Aby.
“Yaudah ya takut keburu hujan” Nadia langsung buru-buru turun.

Di sepanjang perjalanan menuju rumah, Nadia masih memikirkan Evan dan tingkah Aby yang aneh. Sakit di kepalanya mulai terasa lagi. Hujan mulai turun rintik-rintik tapi Nadia tetap tak sadar kalo hujan sudah turun. Tiba-tiba motor berhenti di depan Nadia. Orang itu langsung membuka helmnya dan turun menghampiri Nadia.
“Evan? Ngapain kamu di sini?” Tanya Nadia bingung.
“Aku pengin ketemu kamu Nad”
“Ngapain? Tadi kan udah?” kata Nadia jutek.
“Ada yang mau aku jelasin” kata Evan memegang tangan Nadia sedangkan hujan masih rintik-rintik.
“Gak ada yang harus di jelasin lagi Evan. Semuanya udah jelas kalo kamu akan menikah dengan dia!!” bentak Nadia.
“Aku masih sayang sama kamu Nad. Aku gak sayang sama dia. Ini semua terpaksa” kata Evan menggemgam tangan Nadia erat-erat matanya mulai berkaca-kaca hujan pun mulai deras.
“BOHONG!! Aku tau kamu malu kan punya cewek kayak aku, PENYAKITAN!! Aku tau aku gak akan pernah bisa buat kamu bahagia. Kebahagiaan itu hanya sementara, karna aku sebentar lagi akan mati! Kalo kamu emang malu punya cewek kayak aku, bilang aja. Jangan kayak gini caranya. SAKIT!!” kata Nadia mengetuk-ngetuk dada Evan, air matanya mulai mengalir. Evan langung menggengam tangan Nadia dengan erat.
“Nadia please dengerin aku dulu!! Aku tuh sayang banget sama kamu, aku dekat dengan dia juga karna terpaksa. Kamu tau? Aku tuh sekarang gak punya apa-apa lagi. AYAH ku BANGKRUT!! CEWEK itu? Orang tua dia yang bantuin keadaan orang tua ku. Dari situ orang tua ku dengan dia menjodohkan aku, aku udah tolak itu semua, tapi apa daya? Itu juga demi orang tua ku Nad. Orang tua ku memaksa aku. Aku juga gak bisa membantah perintah orang tua ku. Mungkin di mata dia akan berjalan dengan lancar dan bahagia. Tapi PERASAAN KU? Di hatiku cuma ada kamu” air mata Evan sudah mengalir deras. Nadia yang dengar itu juga ikut menangis, hanya karna itu mereka di pisahkan. Nadia langsung memeluk Evan, baju mereka sudah basah kuyup karna hujan sangat deras.
“Maafin aku Van aku udah nuduh kamu yang enggak-enggak. Kenapa kamu gak cerita sama aku?” Nadia terisak tangis.
“Maafin aku juga Nad. Sebenarnya aku takut kamu ninggalin aku, aku juga takut nyakitin kamu, lebih baik aku gak cerita ini semua. Aku sayang banget sama kamu Nadia” kata Evan tulus.
“Kamu sayang aku kan Van? Lupain aku Van, bahagiakan dia. Dia yang lebih pantas memiliki kamu, dia yang bisa membahagiakan kamu. Aku juga sayang banget sama kamu, aku bahagia kalo kamu juga bahagia dengan dia” kata-kata Nadia menusuk hati Evan. Evan masih tidak rela meninggalkan Nadia.
Sebulan sudah Nadia tak bertemu dengan Evan, hari-harinya mulai di isi dengan Aby yang selalu membuat dia tersenyum, walaupun sakit di kepalanya mulai kambuh lagi. Besok adalah hari pernikahan Evan dengan perempuan itu, Nadia masih bimbang untuk hadir di acaranya, hatinya tak bisa di bohongi kalo Nadia masih sayang Evan. Tapi Nadia ingin melihat Evan bahagia. Setelah bersiap-siap untuk berangkat tiba-tiba Nadia jatuh pingsan. Aby langsung membawa Nadia ke rumah sakit. Nadia masuk di ruang ICU. Orang tua Nadia dari Surabaya langsung datang ke Jakarta. Aby mencoba menghubungi Evan tapi tidak di angkat. Aby terus berusaha menelpon Evan sampai ke lima belas kalinya di angkat oleh Evan. Evan langsung datang ke rumah sakit. Evan datang dengan pakaian jas hitam, dasi dan peci.
“Nadia kenapa By?” Tanya Evan gugup.
“Aku gak tau Van, tiba-tiba dia pingsan”
Tiba-tiba dokter keluar.
“Bagaimana keadaan anak saya Dok?” tanya Ibu Nadia. Dokter hanya mengeleng-geleng kepalanya.
“Nadia telah masuk stadium empat Bu. Dan saya tak bisa memastikan berapa lama dia akan bertahan. Kami telah berusaha sebisa mungkin. Hanya tuhan yang menentukan” kata Doker. Mama Nadia langsung menangis di peluk dengan Papa Nadia. Aby yang tau itu langsung bersender lemas di tembok, Evan menjambak-jambak rambutnya dan memukul-mukul tembok. Semuanya mendoakan Nadia untuk sembuh. Tiba-tiba Nadia memanggil-manggil nama Evan.
“Evan…evan” kata Nadia pelan, matanya mulai terbuka pelan-pelan. Evan langsung menggemgam tangan Nadia.
“Nadia… aku Evan Nad. Aku di sini” kata Evan.
“Maafin atas kesalahan aku ya Van” suara Nadia sangat pelan, air matanya mulai mengalir.
“Aku yang salah Nad. Aku yang seharusnya minta maaf ke kamu. Aku udah buat kamu terluka dan kecewa” kata Evan.
“Bahagiakan dia ya Van. Dia sayang kamu, jaga dia Van. Jangan buat dia kecewa.” Evan yang mendengar itu langsung menangis.
“Aby… sahabat aku yang paling baik. Makasih kamu selalu membuatku tersenyum, makasih kamu selalu ada di saat ku butuh. Maafin aku ya kalo aku punya salah” kata Nadia menggenggam tangan Aby.
“Iya Nad, aku udah maafin kamu”
“Mama, Papa. Kalian udah gak sering berantem kan? Saling rukun dan saling mengerti ya Ma, Pa. maafin aku kalo ada salah” kata Nadia, air matanya mulai mengalir deras.
“Iya sayang. Mama dan papa sudah maafin kamu. Maafin mama, papa juga ya. kita udah sering memarahi kamu. kami lebih sibuk dengan tugas-tugas masing-masing , tanpa peduliin kesehatan kamu” kata Mama Nadia. Air matanya mulai mengalir deras.
“Maafin Papa juga ya Nak. Hingga kami tak tau kamu sakit” papanya juga mulai menangis. Nadia hanya membalas senyuman tipisnya. Tiba-tiba nafas Nadia tersendat-sendat. Semunya langsung panik.
“Nadia…kamu kenapa?” kata Evan dan Aby panik.
“Nadia… nadia… panggil dokter By” kata Mama Nadia. Aby langsung memanggil dokter.
“Anak saya kenapa Dok?” Tanya Mama Nadia gugup.
“Tenang ya Bu.” Kata Dokter singkat, langsung memeriksa Nadia.
Dokter langsung menggeleng-geleng.
“Anak Ibu sudah tak tertolong lagi”. Mama Nadia langsung memeluk Nadia, tangisannya makin meledak. Begitu pun Aby, Evan, dan Papanya.
Di saat kebahagiaan hadir di kehidupan Evan, tapi kesedihan menimpa cinta sejatinya.