Jurnal Metode Pembelajaran

Selasa, 08 November 2011

METODE PEMBELAJARAN BASED LEARNING

Oleh: Annisa Rafika Sarinastiti*

(Pendidikan Teknik Busana UNY/ 11513244011)

Abstrak

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Dalam pembelajaran, pendidik harus memahami hakikat materi pelajaran yang diajarkannya dan memahami berbagai model pembelajaran yang dapat merangsang kemampuan siswa untuk belajar dengan perencanaan pengajaran yang matang. Based Learning adalah suatu metode pembelajaran kooperatif berdasarkan pada prinsip penggunaan permasalahan sebagai titik awal untuk penggadaan pengetahuan baru. Pendekatan pemecahan masalah ini menempatkan pendidik sebagai fasilitator dimana kegiatan belajar mengajar akan dititik beratkan pada keaktifan siswa, kegiatan belajar ini dapat mengasah kemampuan siswa dalam memahami suatu konsep, menggunakan penalaran, memecahkan masalah, mengemukakan gagasan atau ide dan mampu bekerjasama.

Kata kunci: metode pembelajaran, based learning.

A. Pendahuluan

Kegiatan pembelajaran adalah kegiatan pendidikan pada umumnya, yang menjadikan siswa menuju keadaan yang lebih baik. Pembelajaran dalam hal ini tidak dapat lepas dari peran guru sebagai fasilitator dalam penyampaian materi. Profesionalisme seorang guru sangatlah dibutuhkan guna terciptanya suasana proses belajar mengajar yang efisien dan efektif dalam pengembangan siswa yang memiliki kemampuan beragam. Pembelajaran pada dasarnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan perilaku kearah yang lebih baik.

Pemecahan masalah merupakan fokus dalam pembelajaran yang artinya sebelum siswa belajar harus melalui sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari yang masalahnya bersifat tertutup dan terbuka. Oleh karena itu pada proses pembelajaran guru perlu meningkatkan kemampuan menjadi guru professional dan kreatif dalam mengembangkan kemampuan mengajar sehingga siswa dapat maksimal walaupun dalam kenyataannya guru-guru di Indonesia sebagian besar masih mempertahankan metode-metode pembelajaran lama. Kemampuan guru sebagai salah satu usaha meningkatkan mutu pendidikan, dimana guru merupakan elemen di sekolah yang secara langsung dan aktif bersinggungan dengan siswa, kemampuan yang dimaksudkan adalah kemampuan mengajar dengan menerapkan model pembelajarn yang tepat, efisien dan efektif.

Menurut UNESCO: “learning to know, learning to do, learning to be, and learning to live together“ siswa bukan hanya duduk diam dan mendengarkan. Siswa harus diberdayakan agar siswa tersebut mau serta mampu berbuat untuk memperkaya pengelaman belajar (learning to do). Interaksi antara siswa dengan lingkungannya menuntut mereka untuk memahami pengetahuan yang berkaitan dengan dunia sekitarnya (learning to know). Interaksi tersebut diharapkan siswa dapat membangun jati diri (learning to be). Kesempatan berinteraksi dengan berbagai individu atau kelompok yang bervariasi akan membentuk kepribadian untuk memahami kebersamaan, bersikap toleransi terhadap teman (learning to live together). Untuk mencapai tujuan yang diatas dibutuhkan metode pengajaran yang sesuai, salah satunya adalah metode pembelajaran Based Learning. Based Learning adalah suatu metode pembelajaran kooperatif berdasarkan pada prinsip penggunaan permasalahan sebagai titik awal untuk penggadaan pengetahuan baru. Pendekatan pemecahan masalah ini menempatkan guru sebagai fasilitator dimana kegiatan belajar mengajar akan dititik beratkan pada keaktifan siswa, kegiatan belajar ini dapat mengasah kemampuan siswa dalam memahami suatu konsep, menggunakan penalaran, memecahkan masalah, mengemukakan gagasan atau ide dan mampu bekerjasama. Proses pembelajaran yang mengikut sertakan siswa secara aktif secara individu maupun kelompok, akan lebih bermakna karena dalam proses pembelajaran siswa mempunyai lebih banyak pengalaman. Dengan pembelajaran dengan metode pembelajaran Based Learning siswa akan lebih kreatif.

B. Metode Pembelajaran Based Learning

Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita mendengar percakapan seperti: “Kalau ada masalah, mari kita diskusikan bersama” atau “ Segala sesuatu akan dapat kita selesaikan dengan baik apabila kita diskusikan permasalahannya”. Dari percakapan tersebut, kita mendapat gambaran bahwa diskusi merupakan pembicaraan antara dua orang atau lebih untuk membicarakan suatu masalah dan menyelesaikannya.
Based learning merupakan strategi pengajaran dimana satu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok, yang masing-masing kelompok terdiri dari 3-6 orang untuk mendiskusikan suatu topik atau memecahkan suatu masalah, bisa dilakukan didalam kelas atau di luar kelas. Dalam satu kelompok ini, mereka mempunyai tugas antara lain:

· Membantu memecahkan masalah yang dihadapi.

· Menampilkan saran-saran untuk mendiskusikan atau memecahkan masalah.

· Mendengarkan baik-baik dan menghargai sumbangan pikiran anggota-anggota lainnya.

· Mengembangkan pendapat atas dasar pendapat anggota lainnya.

Memecahkan masalah merupakan metode belajar yang mengharuskan pelajar untuk menemukan jawabannya. Metode ini dapat didasarkan pada penelitian, pengajaran proyek, pengajaran unit yang terintegrasi, pendekatan interdisipliner, pelajaran individual, dan pengajaran yang aktif. Setiap metode yang digunakan mempunyai tujuan untuk mendidik anak agar sanggup memecahakan masalah.

Langkah-langkah yang diikuti dalam pemecahan masalah, pada umumnya seperti yang telah dikemukakan oleh John Dewey, antara lain:

· Pelajar dihadapkan pada masalah.

· Pelajar merumuskan masalah itu.

· Pelajar merumuskan hipotesis.

· Pelajar menguji hipotesis tersebut.

Pada umumnya, yang hadir di ruang kelas adalah terjadinya pembelajaran tradisional yang dimana proses pembelajaran yang terjadi bersifat memusatkan pada guru,dengan menjadikan siswa sebagai objek pembelajaran dengan aktifitas utamanya untuk menghafal materi pelajaran, mengerjakan tugas dari guru, menerima hukuman apabila melakukan kesalahan, dan kurang mendapatkan penghargaan terhadap hasil kerjanya. Situasi pembelajaran seperti ini jika terus dipertahankan akan membawa dampak yang buruk bagi siswa, dimana kondisi ini akan memunculkan sikap kegagalan dan mempertahankan diri. Siswa akan merasa apa yang mereka kerjakan bukan merupakan apa yang mereka inginkan. Jika terjadi sesuatu di luar keinginan siswa, maka dia akan berusaha untuk berbohong atau menutupi apa yang mereka rasakan dan alami dalam kegiatan pembelajaran.
Based learning ini menawarkan sebuah konsep untuk menciptakan pembelajaran dengan berorientasi pada upaya pemberdayaan potensi otak siswa. Tiga strategi utama yang dapat dikembangkan dalam based learning adalah:

1. Menciptakan lingkungan belajar yang menantang kemampuan berpikir siswa. Dalam setiap kegiatan pembelajaran, sering-seringlah guru memberikan soal-soal materi pelajaran yang memfasilitasi kemampuan berpikir siswa dari mulai tahap pengetahuan sampai tahap evaluasi. Soal-soal pelajaran dikemas semenarik mungkin, misalnya melalui teka-teki, simulasi games, agar siswa dapat terbiasa untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya dalam konteks pemberdayaan potensi otas siswa.

2. Menciptakan lingkungan pembelajaran yang menyenangkan. Hindarilah situasi pembelajaran yang membuat siswa merasa tidak nyaman dan tidak senang terlibat didalamnya. Lakukan kegiatan pembelajaran dengan diskusi kelompok yang diselingi dengan permainan-permainan menarik, dan upaya-upaya lainnya yang mengeliminasi rasa tidak nyaman pada diri siswa. seseorang akan belajar dengan segenap kemampuan apabila dia menyukai apa yang dia pelajari dan dia akan merasa senang terlibat didalamnya.

3. Menciptakan situasi pembelajaran yang aktif dan bermakna bagi siswa. Siswa sebagai pembelajar dirangsang melalui kegiatan pembelajaran untuk dapat membangun pengetahuan mereka melalui proses belajar aktif yang mereka lakukan sendiri. Bangun situasi pembelajaran yang memungkinkan seluruh anggota badan siswa beraktivitas secara optimal, misal mata siswa digunakan untuk membaca dan mengamati, tangan siswa bergerak untuk menulis, kaki siswa bergerak untuk mengikuti permainan dalam pembelajaran, mulut siswa aktif bertanya dan berdiskusi, dan aktivitas produktif anggota badan lainnya.

Selain itu alasan menggunakan metode based learning adalah:

1. Meningkat pendidikan untuk semua siswa.

2. Mengubah pola mengajar dari memberitahu ke melakukan.

3. Menyediakan kesempatan bagi siswa untuk belajar sesuai dengan minat dan membuat keputusan sendiri.

4. Memberi kesempatan siswa untuk berdiskusi tentang bagaimana mereka akan menemukan jawaban pertanyaan atau memecahkan masalah.

5. Memungkinkan siswa melek teknologi.

6. Melengkapi siswa dengan keterampilan dan rasa percaya diri untuk sukses pada kompetisi global.

7. Mengajarkan inti kurikulum dengan cara interdisiplin.

Biasanya, based learning digunakan oleh seorang guru ataupun dosen ketika mengajarkan keterampilan berpikir dan keterampilan memecahkan masalah, pertanyaan menarik minat siswa, bila melatih siswa menjadi pembelajar yang madiri, serta pertanyaan mempunyai kemungkinan jawaban lebih dari satu.
Contoh metode based learning: Guru memberikan suatu studi kasus mengenai kondisi suatu daerah tertentu yang kekurangan gizi sehingga menyebabkan rendahnya produksi pada daerah tersebut, maka para siswa diminta untuk menyelesaikan dua masalah yang saling berkaitan itu dengan mempertimbangkan kondisi daerah itu secara keseluruhan termasuk soal keuangan, kelembagaan dan sumber-sumber lainnya yang tersedia bagi pembangunan.

C. Ciri-ciri Metode Based Learning

1. Mengorientasikan siswa kepada masalah autentik.

2. Membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah, keterampilan intelektual, dan belajar berbagai peran orang dewasa dengan terlibat dalam pengalaman nyata/simulasi.

3. Berfokus pada keterkaitan antar disiplin.

4. Penyelidikan autentik.

5. Menghasilkan produk/karya dan memamerkannya.

6. Menghindari pembelajaran terisolasi dan berpusat pada guru.

7. Menciptakan pembelajaran interdisiplin, berpusat pada siswa dalam jangka waktu lama.

8. Terintegrasi dengan dunia nyata dan pengalaman praktis.

9. Mengajarkan kepada siswa untuk mampu menerapkan apa yang mereka pelajari di sekolah dalam kehidupannya yang panjang.

10. Pembelajaran berpusat pada siswa.

11. Pembelajaran terjadi pada kelompok kecil.

12. Guru berperan sebagai tutor dan pembimbing.

13. Masalah diformulasikan untuk memfokuskan dan merangsang pembelajaran.

14. Masalah merupakan kenderaan untuk pengembangan keterampilan pemecahan masalah.

15. Informasi baru diperoleh lewat belajar mandiri.

D. Tujuan Metode Based Learning

1. Mengembangkan pengetahuan, tentang apakah yang dilakukan dan bagaimana melakukan hal tersebut.

2. Mengembangkan sikap, tentang kemauan untuk mempraktekkan apa yang telah dipelajari.

3. Mengembangkan keterampilan, tentang abilitas untuk dapat menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh melalui proses latihan pada pekerjaan tertentu.

4. Melatih siswa berpikir tingkat tinggi dan pemecahan masalah.

5. Melatih siswa menjadi pebelajar yang mandiri (self regulated learning).

6. Memperluas pandangan.

7. Siswa didorong menggunakan pengetahuan dan pengalamannya untuk memecahkan masalah.

8. Siswa mamapu menyatakan pendapatnya secara lisan. Hal itu melatih kehidupan yang demokratis.

9. Memberi kemungkinan pada siswa untuk belajar berparisipasi dalam pembicaraan untuk memecahkan suatu masalah bersama.

10. Mengembangkan keterampilan bertanya, berkomunikasi, menafsirkan, dan menyimpulkan pada diri siswa.

11. Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah dan konsep diri yang lebih positif.

12. Membantu mengembangkan kepemimpinan.

13. Memberi kemungkinan untuk saling mengemukakan pendapat.

14. Mengembangkan rasa sosial, karena siswa bisa saling membantu dalam memecahkan soal.


Sementara itu, guru mempunyai peran sebagai berikut:

1. Mengajukan masalah otentik/ mengorientasikan siswa/mahasiswa kepada masalah.

2. Memfasilitasi/ membimbing penyelidikan pada saat pengamatan atau eksperimen.

3. Memfasilitasi dialog antara siswa.

4. Mendukung belajar siswa.

5. Memberikan instruksi verbal kepada siswa untuk membantu siswa memecahkan masalah. Instruksi verbal maksudnya ialah membimbing atau menjuruskan pemikiran pelajar itu ke arah tertentu.

E. Kelebihan dan Kekurangan Metode Based Learning

· Kelebihan Metode Based Learning:

1. Metode ini memberikan kesempatan pada siswa untuk mengemukakan pendapat.

2. Menguntungkan para siswa yang lemah dalam pemecahan masalah, karena pemecahan masalah dilakukan oleh kelompok biasanya lebih tepat dan cepat daripada memecahkan masalah secara perseorangan.

3. Meningkatkan kemungkinan siswa berpikir kritis.

4. Dapat mengembangkan rasa kepemimpinan.

5. Siswa dapat belajar memehami siswa lain karena pendapat setiap siswa selalu berbeda.

6. Dapat saling membantu dalam memecahkan masalah.

7. Meningkatkan keakraban antar siswa.

8. Membuat siswa lebih aktif.

9. Dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk memecahkan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari.

10. Menimbulkan ide-ide baru.

· Kelemahan Metode Based Learning:

1. Metode ini tidak menjamin penyelesaian, sekalipun kelompok setuju atau membuat kesepakatan, sebab keputusan yang dicapai belum tentu akan dilaksanakan.

2. Seringkali didominasi oleh seorang atau beberapa orang anggota diskusi dan menyebabkan orang yang tidak berminat hanya sebagai penonton.

3. Kadangkala, terjadi adanya pandangan dari berbagai sudut bagi masalah yang dipecahkan, bahkan mungkin pembicaraan menjadi menyimpang, sehingga memerlukan waktu yang panjang.

4. Seringkali anggota kelompok mencoba mendominasi pembicaraan, sedangkan anggota lainnya mungkin segan untuk ikut berpartisipasi.

5. Model pembelajaran Based Learning biasa dilakukan secara berkelompok membuat siswa yang malas semakin malas.

6. Siswa merasa guru tidak pernah menjelaskan karena model pembelajaran ini menuntut siswa yang lebih aktif.

F. Kesimpulan

Dari pembahasan diatas bahwa pembelajaran Based learning merupakan strategi pengajaran dimana satu kelas dibagi beberapa kelompok, kemudian diberi masalah dan siswa bersama-sama memecahkan masalah tersebut, namun dalam setiap pembelajaran memiliki kelemahan dan kekurangan. Dalam pembelajaran ini siswa dituntut untuk aktif. Selain itu Based Learning adalah suatu metode pembelajaran kooperatif berdasarkan pada prinsip penggunaan permasalahan sebagai titik awal untuk penggadaan pengetahuan baru.

Dari pembelajaran Based Learning ini dapat disarankan bahwa dari kelemahan dan kelebihanya siswa diharapkan mampu untuk:

· Belajar mengemukakan pendapat atau berbicara.

· Mengasah siswa untuk mencari ide-ide.

· Belajar untuk memahami pendapat dan diharapkan lebih mengerti dengan penjelasan teman atau kelompok.

Awal Masuk Kuliah

Kamis, 20 Oktober 2011

Awal Masuk Kuliah

Setalah 5 hari ngerasain OSPEK dan acara-acara lainnya di UNY nggak terasa besok udah masuk KULIAAH!! Hore…horee… nggak sabar pengen buru-buru masuk. Hari ini juga aku baru pindah ke kosan, biar besok tinggal jalan kaki aja ke kampus, soalnya besok masuk jam 9. Mata kuliah hari ini Matematika, Teknologi Tekstil. Dan hari itu juga aku ketemu dosen yang namanya Pak Adam Jerussalem. Sebelum ketemu orangnya aku mikir kalo orangnya itu galak, jutek, serem de-el-el. Tapi ternyata nggak sama ma yang aku pikirin. Hahahahaha. (maaf lho ya pak J) Pak Adam ini baik kok, yaa kadang lucu juga. Kedua mata kuliah Teknologi Tekstil sama Pak Noor, hemm Pak Noor lucu, endut ngegemesin,hhihihihi, baik juga kok. Selesai sudah, aku pulang ke kosan, terus pulang ke rumah nenek soalnya keluargaku udah pulang dari Wonosari.

Malem-malem Aku sama Keluargaku pergi buat nyari peralatan kosanku. Berhubung besok masuk pagi jam 7 aku di anterin deh sama Papa dan Mama J aku berangkat, Mamaku ngerapiin kamarku.hohoho. selesai kuliah aku pulang lagi ke rumah nenek, sebelum pulang kita makan dulu di SGPC, ini hari terakhir aku makan bareng-bareng sama Mama dan Papa. L

Jam 7an Mamaku tidur, mamaku kayaknya capek banget, aku tidur disamping Mama sambil meluk Mama. Jam 9 Aku di bangunin sama Mama, soalnya Bayu udah ngejemput buat pulang, soalnya besok masuk jam 7 Pagi. Papaku nggak mau nganterin soalnya capek besok keluargaku juga pulang.

Padahal aku pengen banget tidur terakhir bareng mama, berhubung besok masuk pagi aku ngerelain nggak ketemu mama L padahal aku masih kengeeeeeeeennn banget. Rasanya beraaattt banget pamitan sama Mama, Papa, Adek-adekku. Aku sampe ngeluarin air mata, Aku belum bisa jauh dari Orang Tua.

Aku bangun jam 5 dan solat subuh, aku masih kepikiran mama, aku masih kangen banget sama mama L. Aku mandi, siap-siap dan berangkat. Rasanya nggaak semangat, nggak semangat karena aku nggak bisa ketemu mama, padahal hari ini, hari terakhir mama di jogja. Keluargaku udah pulang ke Tangerang.

Hari ini mata kuliah Teknologi Informasi sama Pak Adam lagi. Aku nunggu lama banget, pas dateng nggak taunya jadwalnya tabrakan ma semester atas. Masuknya jadi jam 9. Tau gini aku nggak nginep dikosan, mending aku tidur di rumah nenek sama Mama. L Pak Adam ngeseliiiiinnn…. Aku sebel banget… padahal hari ini Mama pulang ke Tangerang jam 9, seenggaknya aku bisa ketemu walaupun Cuma sebentar tapi bagi ku berharga L aku nulis ini sambil nangis, nyesek banget. Aku jadi nggak bisa liat mama pulang.

Jam mata kuliah kedua itu jam 1, aku, Oca, Sasa, dan Aya main kekosanku dulu. Baru dating kita poto-poto dulu hahahahaha. Pas dosennya dateng cuma perkenalan namanya, terus ngasih nomor hapenya.(kayak nyari jodoh aja.hihihihi) udah gitu absen terus dia pamit dehh. Huh ampun deh nih dosen nggak jelas. Di tunggu lama-lama nggak taunya cuma gitu doang.

Di kuliah baru ini, aku pengen banget punya sahabat kayak sahabat-sahabatku di Tangerang. Alhamdullilah aku dapet temen yang baik-baik J dan hampir sama kayak temenku di Tangerang, walaupun karakternya beda. Mereka namanya Sasa, Ossa, Lala, Nisa dan Aya. Akhiran nama mereka kayak nama sahabat-sahabatku lhoo, Maya, Tika dan Nova. Semuanya akhirannya “A”.hahahaha. (udah jodoh kali yaaa?)

Semoga di UNY ini di Fakultas Teknik Jurusan Pendidikan Teknik Busana aku bisa ngeraih cita-citaku jadi designer J aku pengen orang tuaku bangga. Bantulah hamba ya Allah, mudahkanlah, dan lancarkanlah dalam menjalani ini semua. Amiiinn J

Baju Bodo Sulawesi Selatan

Selasa, 18 Oktober 2011

BAJU BODO SULAWESI SELATAN



Baju Bodo merupakan busana khas wanita di daerah Makasar, Mandar dan Bugis dipropinsi Sulawesi Selatan.Baju Bodo disebut pula Bodo Gesung atau baju yang berlengan pendek dan menggelembung karena pada bagian punggungnya menggelembung.Baju Bodo merupakan busana tertua usianya di bandingkan busana adat lainnya di daerah Sulawesi.

Busana adat ini terdiri dari blus sebagai busana bagian atas dan sarung sebagai busanabagian bawahnya.Sementara blusnya terdiri dari jenis baju Bodo dan baju Labbu.Baju Labbu merupakan baju Bodo berlengan panjang.Baju Bodo seperti telah di jelaskan di muka termasuk busana tradisional Indonesia yang tergolong jenis busana kutang pada bagian blusnya dan busana bungkus pada bagian sarungnya.Ketentuan atau tata cara berbusana pada masyarakat Sulawesi telah diatur dalam sebuah kitab suci yaitu Patuntung atau tuntunan yang merupakan pedoman dalam menjalankan kaidah kerohanian. Selain itu kitab suci tersebut berisi mantera untuk pengobatan, mandi dan pernikahan. Kitab suci tersebut berasal dari warisan kepercayaan asli yaitu animisme dan dinamisme sebagai sistem religi dan agama serta kepercayan yang benar yang terbagi kedalam Toani Tolotang, Patuntung dan Aluk Todolo

Pada awalnya baju Bodo terbuat dari kain kasa merah atau hitam rangkap dua dandikanji. Panjangnya hingga ke tanah , sehingga merupakan 2 x panjang busana dengan lebar  1 m. Kain itu kemudian dilipat menurut panjangnya. Kedua sisanya dijahit, lalu disisakan 12 cm sebagai lubang lengan.Bagian lubang lengan waktu memakainya agak disingsingkan sehingga lengan menggelembung. Sarung tidak diikat pada pinggang namun hanya dipegang saja dengan tangan kiri

ciri khas baju bodo :

a. Berbentuk segi empat.

b. Tidak berlengan .

c. Sisi samping blus dijahit.

d. Bentuk bagian badan blus menggelembung.

e. Bagian atas dilubangi untuk memasukkan kepala yang sekaligus juga merupakan garis untuk lubang leher.

f. Tidak memiliki sambungan jahitan pada bagian bahu

g. Memakai hiasan berupa kepingan – kepingan logam berbentuk bulat berwarna emas di seluruh pinggiran dan permukaan blus.

Kain yang dipergunakan untuk baju Bodo merupakan kain sutera yang tipis atau dariserat nanas namun tidak tembus pandang karena dibuat rangkap dua. Warna dan panjangnya Baju Bodo menunjukkan status perkawinan atau kedudukan si pemakai, seperti :

No. Pemakai Warna Baju Bodo

1. Wanita yang sudah bersuami Merah tua (baju Bodo panjang)

2. Wanita puteri keraton Merah jambu (baju Bodo pendek)

3. Gadis di lingkungan keraton Hijau muda (baju Bodo pendek)

4. Gadis dari kalangan biasa Kuning (baju Bodo pendek)

5. Ibu mempelai wanita Hitam (baju Bodo panjang)

6. Pengantin wanita Merah darah (baju Bodo pendek)

7. Ibu pengasuh puteri keraton Putih (baju Bodo pendek)

Adanya pembagian warna pada pemakaian baju Bodo karena pada mulanya pendudukSulawesi merupakan campuran dari berbagai ras, maka dalam perkembangannya kemudian terdapat sejumlah kesatuan sosial.Secara horizontal ditandai dengan adanya perbedaan suku dan masing-masing memiliki kebudayaan sendiri dan kepercayaan keagamaan yang bermacam-macam seperti kepercayaan asli yaitu animisme dan dinamisme, Islam dan Kristen.

Sarung yang dipergunakan sebagai paduan baju Bodo terbuat dari benang biasa atausutera asli yang berasal dari serat alam, serat pisang hutan, serat akar anggrek liar.Sarung merupakan sarung tenun Mandar dan tenunan Bugis.Warna sarung yang dipergunakan biasanya memiliki warna dasar hitam, coklat tua atau biru tua.Apabila sarung dibuat dengan warna mengkilap disebut Lipa Sabbe.Ciri khas motif yang dipakai adalah corak kotak-kotak besar atau kecil dengan hiasan emas pada garisnya.

Kelengkapan busana yang biasa dipakai untuk baju Bodo sebagai aksessoris dan millineris adalah :

a. Selendang tipis dengan ujung – ujungnya dihiasi bundaran emas atau perak.

b. Tali ikat untuk mengencangkan lilitan sarung.

c. Ikat pinggang emas dengan pendingnya yang penuh dengan perhiasan.

d. Kipas.

e. Berbagai perhiasan emas, seperti ;

1) Sanggul berhiaskan bunga dengan tangkainya (pinang goyang).

2) Anting panjang (bangkarak).

3) Kalung berantai (geno ma’bule).

4) Kalung panjang (rantekote).

5) Kalung besar (geno sibatu).

f. Alas kaki dahulu tidak beralas kaki, namun sekarang menggunakan alas kaki berupa

selop atau sepatu pantoffel berwarna hitam.

Gelang Pinggiran Lengan

Gelang Tangan


Hiasan Rambut atau Bando

Ikat Pinggang

Kalung Rantai

Bunga Untuk Sanggul


Tata rias rambut yang biasa dipergunakan sebagai kelengkapan berbusana baju Bodo

adalah :

1. Sanggul yang letaknya rendah dengan hiasan tusuk sanggul emas besar berupa

kuntum bunga-bunga palsu dari kain, dan kembang goyang berupa bando yang

berbentuk setengah lingkaran dipakai membujur dihiasi bunga-bunga emas.

2. Untuk acara resmi rambut ditata dengan model sasak sedikit tinggi (sigara).

3. Atau sanggul agak rendah dan diletakkan agak ke sebelah kanan, berhias tusuk konde

dan di bagian pelipis kanan dan kiri diselipkan kembang goyang emas. Sederet bunga

serempa dan bunga seruni menghiasi seputar sanggul.

Pemakaian baju Bodo di Sulawesi lebih banyak dipakai untul ritual, seperti pada upacarakematian, perkawinan dan perayaan lainnya, semua kegiatan dalam upacara-upacara adat tersebut dilakukan secara gotong-royong karena mereka memegang konsep idela kebudayaan saling membantu pekerjaan untuk meringankan pekerjaan atau dikenal dengan istilah Mapalus. Luapan kegembiraan ditampakkan dengan tari dan nyanyi serta makan dan minum yang bersifat istimewa.Perkawinan yang membentuk keluarga batih menjadi peristiwa kehidupan yang dipandang salah satu hal yang sangat penting dalam perjalanan kehidupan.Perasaan, harga diri, martabat pribadi, keluarga dan kelompok ikut dipertaruhkan dalam penyelenggaraan perkawinan. Selain itu penampilan status dan kedudukan seseorang dalam masyarakat turutdi tampilkan melalui cara berbusana.

Tata cara pemakain baju Bobo juga erat kaitannya dengan konsep budaya lain yaitu Sirikyaitu suatu pandangan bahwa tingkah laku dapat diamati sebagai perwujudan kebudayaan yang mengandung lima hal pokok yaitu ade’, bicara, warik, rappang dan sarak. Kelima hal pokok ini di Bugis disebut Pangngaredeng, dan di Makassar disebut Pangngadakkang.Sirik merupakan motivasi untuk menegakkan kesadaran mempertahankan martabat salah satunya melalui busanaBusana yang dibuat sesuai aslinya hanya dapat dilihat di museum.Pemakaian warna baju Bodo sekarang ini tidak memperhatikan aturan status sosial.Kain yang digunakan tidak lagi dari kain transparan ditambah pula pemakaian pakaian dalam khusus yang dipakai bersamaan dengan sarung sutera.

Perkembangan baju Bodo baik pemakaiannya di masyarakat luas maupun bentuk danmodelnya tidak terlepas dari peran perancang busana nasional yang aktif berkreasimembuat modifikasi baju Bodo sebagai salah satu cara mempertahankan budaya nasional. Salah satu perancang yang aktif melakukan inovasi pada baju Bodo adalah Edward Hutabarat.Beliau melakukan riset untuk mengangkat baju Bodo ke jenjang internasional agar busana tradisional Indonesia dikenal di mancanegara dan di lingkungan Indonesia sendiri baju Bodo menjadi populer dan menjadi busana nasional.

a. Bagian blus baju Bodo

1) Garis lingkar lubang leher mempergunakan garis V.

2) Bentuk dasar baju Bodo secara geometris adalah bujur sangkar bila dibentuk 2 dimensi (shape) dan berbentuk kubus bila dibentuk 3 dimensi (form).

3) Bentuk lengan pada baju Bodo adalah model Setali atau Kimono Sleeve. Bentuk lengan yang pendek menggelembung terbentuk karena pada saat pemkaian agak disingsingkan ke atas.

4) Bentuk menggelembung pada bagian belakang terjadi karena letak lingkar lubang leher tidak pada lipatan kain namun di letakkan pada bagian atas lapisan kain bagian muka.

b. Bagian sarung

1) Sarung yang dipergunakan sebagai padanan baju Bodo biasanya mempergunakan lipitan kain pada bagian tengah belakang badan.

2) Panjang sarung merupakan ukuran Longdress.

3) Bentuk sarung yang biasanya dipergunakan berupa kain yang berbentuk persegi panjang disambungkan bagian ujung sisi-sisinya sehingga membentuk silinder

Referensi :

· Suciati S.pd,M.Ds, Analisa Morfologi Baju Bodo Sebagai Busana Daerah Sulawesi Selatan, Prodi Pendidikan Tata Busana Universitas Pendidikan Indonesia

· Gambarwww.google.com

Sahabat


itu poto sahabat baru ku di kampus :) pertama masuk kuliah yang gue pikirkan adalah bisa nggak sih gue dapet temen kayak sahabat-sahabat gue di tangerang?? hemmm... dan ternyata sedikit demi sedikit giue mulai dapet yaitu aya, sasa, dan occa.hahahahai... makin lama makin bertambah lagi, yaitu lala dan nesa. huuuuuaaaaaaa seneng banget......


sahabat-sahabatku di Tangerang jangan lupain aku yaaaa :) hihihihihi. miss you miss you.. muaaccchh...muuaaacchh :*